Fenomena Kelangkaan Kakao, Berkah Atau Bencana?
Rabu, 01 Mei 2024 - 12:18 WIBFoto: pixabay
Siapa yang tidak tergoda dengan kelezatan cokelat? Rasanya yang manis dan pahit menjadikannya favorit banyak orang. Namun, di balik kelezatannya, cokelat kini dibayangi krisis. Kelangkaan dan kenaikan harga kakao dunia menjadi kabar pahit bagi para pecinta cokelat.
Perubahan iklim menjadi dalang di balik krisis ini. Cuaca ekstrem dan pola curah hujan yang tidak menentu di negara-negara Afrika, produsen kakao terbesar dunia, menyebabkan hasil panen menurun drastis. Hal ini memicu kelangkaan pasokan kakao global dan melambungkan harga hingga tiga kali lipat.
Para pecinta cokelat di seluruh dunia harus menelan pil pahit dengan kenaikan harga produk cokelat. Harga couverture dan bubuk cokelat naik tajam, membuat para pengusaha kue dan coklat kecil menjerit. Konsumen pun harus merogoh kocek lebih dalam untuk menikmati camilan favorit mereka.
Di balik pahitnya krisis, ada secercah harapan bagi Indonesia. Sebagai produsen kakao terbesar ketiga dunia, Indonesia diuntungkan dengan situasi ini. Harga jual kakao di tingkat petani melonjak, menjadi berkah bagi mereka yang memiliki pohon kakao yang terawat.
Namun, kebahagiaan ini tidak kekal. Indonesia pun tak luput dari efek perubahan iklim. Kekeringan ekstrem tahun lalu dan berkurangnya lahan perkebunan kakao menyebabkan penurunan produksi di beberapa wilayah.
Kenaikan harga kakao juga menjadi perhatian bagi industri pengolahan kakao di Indonesia. Perusahaan-perusahaan ini harus mencari cara untuk mengoptimalkan proses produksi dan manajemen biaya agar harga produk akhir di pasaran tidak naik drastis.
Masa depan cokelat masih diselimuti ketidakpastian. Jika iklim tahun ini kembali memburuk, harga kakao bisa kembali melonjak. Sebaliknya, jika Afrika kembali memanen kakao dan produksi di Indonesia bisa ditingkatkan, harga kakao bisa kembali turun.
Kisah pahit manis cokelat ini menjadi pengingat bagi kita semua. Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan manusia. Kita perlu bahu-membahu untuk mengatasi krisis iklim agar cokelat dan berbagai komoditas lainnya dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang.
Mari kita jaga bumi dan budidayakan kakao dengan berkelanjutan, agar pahit manis cokelat tetap bisa dinikmati bersama.

