Kendala Smart Farming Di Indonesia
Sabtu, 22 Juni 2024 - 13:17 WIBFoto: pixabay
Smart Farming, atau pertanian pintar, hadir sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor agrikultur. Konsep ini menggabungkan teknologi digital, mekanisasi pertanian, dan sistem pemasaran berbasis digital untuk mengoptimalkan seluruh aspek kegiatan bertani.
Meskipun smart farming menawarkan berbagai keuntungan bagi masa depan agrikultur Indonesia, penerapannya masih terhalang oleh beberapa tantangan, yaitu:
1. Skala Ekonomi
Mayoritas petani dan peternak di Indonesia tergolong skala mikro, mengelola lahan atau ternak dalam jumlah kecil. Banyak juga yang hanya sebagai petani pengelola, lahannya dimiliki orang lain.
Penggunaan teknologi canggih seperti sensor atau drone yang mahal menjadi tidak efektif karena hanya digunakan untuk area kecil.
2. Edukasi dan Regenerasi
Pekerjaan di bidang pertanian sering dianggap membutuhkan usaha keras dengan hasil yang minim, sehingga minat generasi muda menurun. Dominasi generasi paruh baya memicu masalah regenerasi dan edukasi
Petani kesulitan merumuskan strategi produksi dan distribusi tepat karena tidak bisa membaca dan menganalisis data dalam bentuk kurva. Kurangnya literasi digital membuat edukasi intensif tentang penggunaan online marketplace diperlukan, Ketersediaan internet khusus untuk operasional dan edukasi petani juga menjadi tantangan.
Penerapan teknologi yang tepat, dipadukan dengan edukasi dan pemberdayaan petani, akan menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas, kesejahteraan petani, dan ketahanan pangan nasional.

