Berbagai Kendala Para Petani Kakao Di Indonesia
Minggu, 04 Agustus 2024 - 20:07 WIBFoto: pixabay
Masa panen pertama pohon kakao umumnya dimulai pada tahun ketiga setelah penanaman. Setelah masa produktif, tanaman kakao dapat menghasilkan buah kakao secara berkala, rata-rata dua kali dalam setahun. Indonesia, yang pernah menjadi negara penghasil kakao terbesar dunia, mengalami penurunan produksi yang cukup drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Posisi Indonesia sebagai penghasil kakao terbesar dunia kini telah merosot hingga ke peringkat ketujuh. Salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan produksi kakao di Indonesia adalah rendahnya produktivitas petani kakao. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala yang dihadapi petani dalam proses budidaya kakao, mulai dari aspek teknis hingga faktor ekonomi.
Sulit Mencari Mitra Bisnis yang Peduli Proses
Proses tanam, panen, hingga pascapanen berjalan cukup panjang. Sayangnya, tahapan ini jarang dihargai banyak orang.
Alhasil, sering kali terjadi proses tawar-menawar dalam menentukan harga jual kakao yang menyulitkan petani.
Kualitas Kakao
Dalam industri kakao, tidak hanya volume produksi yang menjadi perhatian utama, namun kualitas biji kakao juga menjadi faktor penentu nilai jual. Kualitas biji kakao sangat dipengaruhi oleh penanganan pascapanen yang tepat. Secara umum, proses pascapanen kakao dapat dikelompokkan menjadi dua metode utama, yaitu proses nonfermentasi dan proses fermentasi. Masing-masing metode memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda, sehingga menghasilkan produk akhir dengan kualitas yang berbeda pula.
Fluktuasi Harga Kakao
Harga kakao, seperti komoditas lainnya, tidaklah statis dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada tahun 2024, harga kakao mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kenaikan harga kakao saat ini merupakan yang tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Kenaikan harga ini tentu saja disambut gembira oleh para petani kakao. Namun, di sisi lain, para petani juga perlu lebih cermat dalam menjalin kerjasama dengan mitra bisnisnya, mengingat fluktuasi harga yang tinggi dapat berdampak pada stabilitas pendapatan petani.

