Variasi Rujak Khas Indonesia Yang Patut Anda Coba (bagian 3-habis)
Jumat, 09 Oktober 2020 - 13:36 WIBFoto : blog.reservasi
Artikel kali ini merupakan bagian ke 3 dari tema varian rujak Indonesia, berikut ini variasi rujak lainnya yang patut Anda coba :
1.Rujak Petis

Foto : kompasiana
Ini adalah varian rujak lain dari Surabaya. Rujak ini berisi irisan bangkuang, mangga mentah, ketimun, kangkung, kedondong, tahu dan tauge, semuanya disajikan dengan saus hitam yang terbuat dari petis (terasi udang yang difermentasi) bawang merah goreng, garam, gula aren, pisang mentah dan kacang tanah tumbuk. Secara tradisional disajikan di atas daun pisang.
2.Rujak Tolet

Foto : cookpad
Mirip dengan rujak buah, dan juga dari Surabaya. Selain buah mentah, rujak ini terdiri dari tahu goreng, bawang putih goreng, dan urat daging sapi. Kuahnya berbahan dasar petis yang dicampur gula aren, irisan cabai rawit mentah, dan kecap manis.
3. Rujak Juhi

Foto : food.detik
Juhi berarti sotong dalam bahasa Indonesia; rujak ini berisi tahu tau kwa goreng, kentang rebus goreng, sotong asin goreng, mentimun, mie, selada, kol, sambal kacang, cuka, cabai dan bawang putih goreng. Hidangan ini berawal dari komunitas Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta) dan kini telah menjadi hidangan Betawi yang lekat dengan asinan Betawi.
4. Rujak Shanghai

Foto : blog.reservasi
Dinamai dari "Bioscoop Shanghay" Di kawasan Kota Batavia , sajian ini diciptakan oleh komunitas Tionghoa Indonesia. Varian rujak ini bisa ditemukan di kawasan Pecinan Indonesia di wilayah seperti Glodok di Jakarta. rujak Shanghai berisi makanan laut, seperti rujak juhi. Irisan gurita rebus dan ubur-ubur yang bisa dimakan disajikan dengan kangkung dengan saus asam manis merah kental, dicampur dengan perasan nanas dan kacang tumbuk panggang. Biasanya sambal dan acar bengkoang disajikan sebagai pelengkap.
5. Rujak Soto

Foto : id.tastemade
Kuliner khas Banyuwangi, Jawa Timur ini merupakan perpaduan unik antara soto sapi dan rujak cingur. Makanan khas setempat di mana rujak sayuran (kangkung dan tauge) disajikan dengan lontong dalam kuah petis yang disiram dengan kuah soto. Pertama kali dibuat pada tahun 1975 oleh Usni Solihin.

