Ngaben, Upacara Kremasi Khas Bali
Jumat, 24 September 2021 - 15:55 WIBFoto: kumparan
Ngaben, ritual upacara sakral Bali, adalah salah satu acara budaya yang paling penting. Ngaben merupakan upacara kremasi di mana keluarga mengirim almarhum untuk memasuki kehidupan "berikutnya". Dalam Agama Hindu, Ngaben berarti memisahkan jiwa dari jasad, dimana dilakukan dalam ritual ini melalui kremasi.
Ngaben sebenarnya adalah istilah yang digunakan 'masyarakat biasa' dalam struktur sosial masyarakat Bali. Sedangkan bagi para bangsawan dan keluarga kerajaan upacara ini disebut Pelebon. Ngaben berasal dari kata ngabuin atau ngabu yang artinya “menjadi abu”, sedangkan pelebon berasal dari kata pelebuan yang artinya sama, “menjadi abu”. Bagi masyarakat Bali, ngaben merupakan upacara yang sakral dan penting karena dengan melakukan ngaben keluarga almarhum dapat membebaskan jiwanya dari ikatan duniawi. Dengan upacara ini keluarga berharap kerabat mereka masuk surga dan bisa bereinkarnasi menjadi pribadi yang lebih baik atau bahkan moksha (bersatu dengan Tuhan).
Upacara ini membutuhkan banyak tenaga, uang, dan waktu, sehingga prosesnya bisa lama. Untuk meringankan beban biaya, tenaga, waktu, saat ini masyarakat Bali sering melakukan ngaben massal. Cara ini lebih terjangkau bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi rendah. Dengan cara ini, jenazah atau biasa disebut layon dikubur terlebih dahulu sampai biaya ngaben bisa terpenuhi. Dengan cara ini, masyarakat dapat menghemat biaya.
Namun, bagi keluarga yang memiliki kemampuan finansial, upacara ngaben bisa dilakukan secepat mungkin. Namun, mereka masih harus menunggu hari terbaik menurut kalender Bali, kesepakatan keluarga, dan izin dari Pedanda. Hingga hari yang ditentukan, jenazah akan disemayamkan di rumah. Rekor upacara Ngaben paling megah dan mahal dipegang oleh Keluarga Kerajaan Ubud yang biaya upacara Pelebon diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Hari baik biasanya dipilih oleh Pedanda setelah berkonsultasi dan memilih hari terbaik dari kalender Bali. Persiapan biasanya dilakukan jauh-jauh hari, bahkan sebelum hari terbaik dipilih. Selama ini, keluarga akan membuat bade dan lembu yang merupakan peralatan utama dalam prosesi ngaben.
Bade dan lembu dibuat oleh tim yang dipimpin oleh seorang undagi atau arsitek tradisional Bali. Bade adalah sejenis menara besar dengan atap bertingkat yang dihiasi dengan kertas berukir warna-warni, kayu, dan bambu yang digunakan sebagai pengangkut jenazah hingga tiba di kuburan.
Sedangkan lembu adalah wadah jenazah saat dibakar. Sesuai dengan namanya wadah ini berbentuk lembu. Tidak hanya lembu, beberapa bentuk lain juga dapat ditemukan seperti singa (singa), padma, naga banda (naga, digunakan khusus oleh keluarga kerajaan), dan sebagainya sesuai dengan status sosialnya Pada hari pelaksanaan Ngaben, persiapannya adalah dimulai dari pagi hari. Di tengah hari, biasanya semua persiapan sudah selesai dan Anda bisa mendengar suara orkestra beleganjur yang kuat yang bisa menghilangkan kesedihan. Jenazah dibawa dan dimasukkan ke dalam bade sebelum diarak ke kuburan.
Sesampainya di kuburan, jenazah ditaruh di belakang lembu yang dipercaya sebagai pengangkut menuju nirwana. Prosesi ini diprakarsai oleh seorang pedanda atau pendeta. Saat tubuh dibakar dengan lembu, semua anggota keluarga akan berkumpul di sekitar lembu yang dibakar. Suasana begitu syahdu dengan suara kidung yang sangat menyentuh. Tidak jarang beberapa anggota keluarga akan meneteskan air mata melepaskan orang yang mereka cintai. Setelah semua benar-benar terbakar menjadi abu, abu ini hanyut ke laut atau sungai. Bagi umat Hindu Bali, laut adalah simbol gerbang tempat Tuhan. Selain itu, membuang abu jenazah ke laut juga berarti mengembalikan kelima unsur tubuh manusia (air, panas, angin, bumi, dan eter) kembali ke alam semesta.

