Mengenal Lebih Dalam Sejarah dan Budaya Wayang Golek
Selasa, 03 November 2020 - 10:18 WIBFoto : cnnindonesia.com
Wayang golek adalah salah satu seni wayang tradisional Sunda dari Jawa Barat, Indonesia.
Berbeda dengan kesenian wayang di pulau jawa lainnya yang menggunakan bahan kulit dalam pembuatan wayang, wayang golek merupakan seni wayang yang terbuat dari kayu.
Wayang Golek sangat populer di Jawa Barat, khususnya di wilayah daratan Pasundan.
Menurut beberapa sumber, sejarah Wayang Golek dimulai pada abad ke-17. Awalnya seni wayang golek muncul dan lahir di pesisir utara pulau jawa khususnya di cirebon.
Wayang golek yang digunakan adalah wayang golek cepak yang berbentuk papak atau kepala ceper.
Menurut legenda, Sunan Suci menggunakan Wayang Golek ini untuk menyebarkan agama Islam di masyarakat.
Saat itu pertunjukan Wayang Golek masih menggunakan bahasa Jawa dalam dialognya.
Seni Wayang Golek mulai berkembang di Jawa Barat pada masa perluasan kesultanan mataram.
Wayang Golek mulai berkembang dengan bahasa Sunda sebagai dialog. Selain sebagai media penyebaran agama, Wayang Golek berfungsi sebagai pelengkap acara syukuran atau ruwatan.
Saat itu pertunjukan wayang golek tanpa menggunakan sindhen sebagai pengiring. Wayang Golek mulai menggunakan iringan sinden pada tahun 1920-an.
Hingga saat ini Wayang Golek terus berkembang sebagai hiburan bagi masyarakat khususnya di tanah Sunda.
Dalam pertunjukan Wayang Golek ini, seperti halnya pertunjukan wayang lainnya, lakon dan cerita dimainkan oleh seorang dalang.
Perbedaannya adalah bahasa dalam dialog yang dibawakan adalah bahasa sunda. Standar dan wayang golek juga sama dengan wayang kulit, misalnya dalam cerita Ramayana dan Mahabarata.
Namun yang membedakan adalah pada karakter badut, penamaan dan bentuk badut memiliki versinya sendiri-sendiri yaitu versi sunda.
Selain cerita Ramayana dan mahabarata, ada juga cerita yang disebut "carangan".
Dalam cerita wayangan ini, dalang membuat alur ceritanya sendiri yang biasanya diambil dari cerita rakyat atau kehidupan sehari-hari.
Dalam cerita carangan biasanya mengandung pesan moral, kritik, humor dan lain - lain.
Dalam cerita, carangan tidak hanya digunakan untuk mengembangkan cerita, tetapi juga untuk mengukur kualitas dalang pembuatan cerita.
Dalam pertunjukan wayang kulit ini selain diiringi oleh sinden juga diiringi oleh gamelan sunda seperti saron, peking, seledri, bonang, kenong, gong, rebab, kempul gambang, kendang.

Foto : murnis.com

