Mengenal Kitab Magis Legendaris Dari Sumatera
Selasa, 17 November 2020 - 19:27 WIBFoto : kate.id
Pustaha adalah kitab magis orang Batak Toba di Sumatera Utara, Indonesia. Buku itu berisi formula magis, ramalan, resep, dan hukum. Pustaha ditulis dan disusun oleh seorang pendeta penyihir (datu) Batak.
Nama pustaha diambil dari bahasa Sansekerta "pustaka" yang berarti "buku" atau "naskah". Ini menunjukkan adanya pengaruh awal agama Hindu terhadap budaya Batak Toba.
Secara fisik sebuah pustaha terdiri dari dua sampul keras (lampak) dan halaman yang terbuat dari kulit kayu pohon (laklak) yang dilunakkan untuk tulisannya.
Hardcover biasanya diukir dengan motif ilik, tokek yang mewakili dewa Boraspati ni Tano, dewa bumi yang bermanfaat bagi orang Batak Toba.
Halamannya terbuat dari kulit kayu pohon alim atau gaharu.
Kulit kayu dilunakkan dalam air beras, dilipat dan diamankan di antara dua sampul keras.
Pohon alim dapat ditemukan tumbuh di wilayah Barus Hulu, sekitar Pardomuan di Kabupaten Dairi, dan di Pulau Raja di Kabupaten Asahan. Beberapa pustahas terbuat dari bambu atau tulang kerbau.
Panjang kulit pohon biasanya mencapai panjang 7 meter dan lebar 60 sentimeter.
Sebuah pustaha ditulis dan disusun oleh seorang pendeta penyihir Toba, yang dikenal sebagai datu.
Seorang datu menulis pustaha dalam aksara Batak menggunakan gaya bahasa kuno yang dikenal sebagai hata poda.
Kata poda (atau pědah dalam dialek utara) adalah kata sehari-hari Batak yang berarti "menasihati", tetapi dalam bahasa pustaha, kata ini berarti "petunjuk" atau "pembimbing".
Hata poda berasal dari bagian selatan tanah Batak dengan beberapa tambahan kata Melayu.
Pustaha digunakan oleh datu sebagai rujukan baginya dan bagi murid-muridnya untuk semua jenis informasi yang berhubungan dengan sihir, ritual, resep, dan ramalan.
Pustaha adalah salah satu dari sekian banyak alat magis yang dimiliki seorang datu, beberapa yang lainnya adalah tongkat yang dapat menjamin keberuntungan atau menyebabkan penyakit, tanduk obat, kalender bambu dan pisau datu.

