Mengenal Sejarah Dan Cara Pembuatan Tempe
Minggu, 06 Desember 2020 - 18:39 WIBFoto : suara.com
Tempe berasal dari daerah sekitar Jawa tengah atau timur dengan perkiraan penemuan antara beberapa abad yang lalu hingga seribu tahun atau lebih.
Sekitar abad ke-12 hingga ke-13, suatu jenis makanan disebut-sebut sebagai kadêlê dalam naskah kuno Jawa, Serat Sri Tanjung.
Namun, tidak jelas apakah kadêlê merujuk pada kedelai yang difermentasi yang diproses atau tidak, karena istilah dalam bahasa Jawa saat ini merujuk pada "kedelai".
Referensi paling awal yang dikenal sebagai têmpê muncul pada tahun 1815 dalam Serat Centhini.
Penemuan tempe terkait dengan produksi tahu di Jawa. Industri pembuatan tahu diperkenalkan ke Jawa oleh pendatang Tionghoa sekitar abad ke-17.
Sejarawan Tionghoa Indonesia Ong Hok Ham berpendapat bahwa tempe secara tidak sengaja diproduksi sebagai produk sampingan dari industri tahu di Jawa; karena kedelai yang dibuang menangkap spora jamur keputihan yang ternyata bisa dimakan.
Produksi tempe dimulai dengan kacang kedelai utuh, yang dilunakkan dengan cara direndam, dikupas, kemudian dimasak sebagian.
Tempe khusus dapat dibuat dari jenis kacang-kacangan lain, gandum, atau biji-bijian.
Langkah utama pembuatan tempe adalah fermentasi kedelai yang di inokulasi dengan Rhizopus spp. kapang, sejenis jamur berserabut yang paling banyak digunakan untuk produksi tempe.
Sebuah fermentasi yang mengandung spora jamur Rhizopus oligosporus atau Rhizopus oryzae dicampurkan.
Biji disebarkan menjadi lapisan tipis dan dibiarkan berfermentasi selama 24 hingga 36 jam pada suhu sekitar 30 ° C.
Kedelai harus didinginkan untuk memungkinkan spora berkecambah dan pertumbuhan miselium yang melimpah.
Nantinya suhu biji akan naik secara alami dan pertumbuhan jamur cepat terjadi selama kurang lebih 4 jam.
Saat pertumbuhan jamur menurun, kedelai harus diikat menjadi massa padat oleh miselium.
Biasanya tempe dipanen setelah 48 jam fermentasi dengan warna keputihan yang bisa dibedakan dan teksturnya keras.

