Lontong Cap Go Meh, Masakan Peranakan Tionghoa Indonesia
Jumat, 11 Desember 2020 - 16:53 WIBFoto : beautynesia.com
Pengaruh masakan Tionghoa pada masakan Indonesia terlihat jelas, seperti mie goreng, lumpia, bakso dan siomay.
Sebaliknya, masakan Tionghoa peranakan Indonesia juga dipengaruhi oleh masakan asli Indonesia.
Dipercaya bahwa lontong cap go meh adalah masakan peranakan Tionghoa Indonesia yang terpengaruh dari hidangan tradisional Indonesia.
Para imigran Tionghoa generasi awal di Indonesia menetap di kota-kota pesisir utara Jawa, seperti Semarang, Pekalongan, Lasem, Tuban dan Surabaya, pada awal periode Majapahit.
Selama waktu itu hanya laki-laki Tionghoa yang menetap di Jawa dan mereka kawin campur dengan perempuan Jawa setempat dan menciptakan budaya Peranakan Jawa-Tionghoa.
Para imigran Tionghoa generasi awal ini telah terbiasa dengan masakan dari istri Jawa mereka.
Untuk merayakan Tahun Baru Imlek, selama Cap go meh, peranakan Jawa mengganti yuanxiao (bola nasi) tradisional dengan lontong lokal disertai dengan berbagai hidangan Jawa seperti opor ayam dan sambal goreng ati.
Dipercaya bahwa hidangan tersebut mencerminkan asimilasi antara imigran Tionghoa dan masyarakat Jawa setempat.
Dipercaya bahwa lontong cap go meh mengandung simbol keberuntungan; Lontong yang kental dinilai lebih kaya dibandingkan bubur encer yang sering diasosiasikan pada masa itu sebagai makanan orang kurang mampu.
Bentuk lontong yang memanjang juga melambangkan umur panjang. Sedangkan telur melambangkan rejeki, dan kunyit-santan berwarna kekuningan melambangkan emas dan rejeki.
Lontong cap go meh merupakan fenomena Peranakan-Jawa; peranakan di Semenanjung Malaya, Sumatra dan Kalimantan tidak familiar dengan hidangan ini.
Hidangan ini biasa diasosiasikan dengan tradisi Imlek orang Indonesia Tionghoa di kota-kota di Jawa, khususnya Semarang. Karena orang Betawi (penduduk asli Jakarta) juga sangat dipengaruhi oleh budaya peranakan Tionghoa Indonesia, lontong cap go meh juga dianggap sebagai salah satu masakan Betawi.

