Kenari Alor Menuju Pasar Inklusif, Lestar, dan Berkelanjutan
Sabtu, 14 Oktober 2023 - 14:19 WIBKenari Alor Menuju Pasar Inklusif, Lestari, dan Berkelanjutan adalah tema yang diusung oleh Wahana Visi Indonesia (WVI). Konsorsium ini telah merumuskan 14 komitmen untuk memajukan sektor kenari di Alor.
Menggelar sebuah acara dalam format talkshow dengan moderator Novemy Leo, acara tersebut melibatkan berbagai pihak seperti Pemerintah Kabupaten Alor, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Alor, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Nusa Tenggara Timur (NTT), Staf Ahli Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia (Kemenkomarves), akademisi dari Universitas Tribuana Kalabahi, pembeli kenari, petani kenari, pengumpul kenari, serta media. Acara ini berlangsung pada tanggal 27 September.
Eben Ezer Sembiring, Interim Operations Director WVI, membuka acara dengan menjelaskan Inclusion Project. Program INCLUSION atau Increasing the leverage of inclusive markets across Indonesia WVI adalah program yang bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan ekonomi petani kecil dan rumah tangga rentan di Indonesia Timur melalui pendekatan Pengembangan Sistem Pasar yang inklusif (iMSD). Pendekatan ini memungkinkan masyarakat miskin, perempuan, dan penyandang disabilitas untuk mendapatkan manfaat dari sistem pasar yang inklusif.
"Program yang merupakan kelanjutan dari Program MORINGA ini akan membangun kemitraan guna mencapai tujuan tersebut, sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan dan mendukung kelestarian lingkungan," ungkap Eben.
Inclusion, yang mendapatkan dukungan dari pemerintah Australia melalui Australian NGO Cooperation Program (ANCP) dan World Vision Australia, dijadwalkan akan dilaksanakan mulai 1 Juli 2022 hingga 30 Juni 2027. Program ini akan berfokus pada tiga provinsi di Indonesia bagian timur, yakni Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.
Lebih lanjut, Eben menjelaskan bahwa Proyek Inclusion ini akan menyasar sektor Pemberdayaan Ekonomi melalui pendekatan Pengembangan Sistem Pasar yang inklusif (iMSD), Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI), Pertumbuhan Ekonomi Hijau, dan Tindakan Iklim.
Eben menjelaskan bahwa tujuan proyek ini adalah untuk meningkatkan pemberdayaan ekonomi sekitar 5.000 rumah tangga petani di wilayah Indonesia Timur, termasuk Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini akan dicapai melalui pengembangan sistem pasar inklusif yang memungkinkan petani miskin, perempuan, dan petani dengan disabilitas untuk mendapatkan manfaat dari sistem pasar yang inklusif tersebut. Jangka waktu Periode mulai Juli 2022 hingga Juni 2023.
Untuk meningkatkan pendapatan petani di NTT sesuai dengan sasaran proyek Inclusion, proyek saat ini tengah mengimplementasikan intervensi dalam empat komoditas utama. Pertama, dalam sektor komoditas padi, proyek memperkenalkan teknologi hibrida. Kedua, di sektor hortikultura, diterapkan teknologi irigasi tetes. Ketiga, diperkenalkan penggunaan pupuk hayati cair. Terakhir, proyek ini juga mengambil langkah untuk membuka dan memperluas akses ke pasar penjualan kenari Alor.
Eben menjelaskan bahwa kenari telah menjadi subjek intervensi sejak program MORINGA. Hasil evaluasi akhir dari program tersebut telah mengungkapkan dampak positif yang signifikan, seperti peningkatan akses pasar penjualan kenari yang semakin meluas, pendapatan rumah tangga petani kenari yang meningkat, peluang mata pencaharian alternatif bagi ibu rumah tangga melalui pekerjaan pengupas kenari, serta munculnya kesadaran untuk menjaga dan menggalakkan gerakan penanaman kembali kenari.
Walau begitu, di tengah semua kesuksesan tersebut, isu keberlanjutan dari perspektif pasar dan lingkungan masih merupakan tantangan yang besar. Bagaimana memastikan bahwa pasar dan hutan kenari tetap berkelanjutan di masa depan? Bagaimana memperluas dan mempertahankan perubahan positif yang telah terjadi saat ini? Pertanyaan-pertanyaan ini memicu refleksi, seperti yang disampaikan oleh Eben pada acara tersebut pada tanggal 27 September di Ballroom Simfony Hotel, Kalabahi.
Eben menjelaskan bahwa dua pertanyaan besar ini tidak dapat dijawab oleh satu atau dua pihak saja. Diperlukan kerja sama, kolaborasi, dan partisipasi dari berbagai pihak. Inilah yang mendorong Wahana Visi Indonesia (WVI) untuk mendorong pembentukan konsorsium kenari.
"Wadah konsorsium kenari ini menjadi opsi yang dianggap dapat mendukung pencapaian tujuan besar terkait keberlanjutan kenari, baik dalam hal lingkungan maupun pasar. Konsorsium ini akan menjadi instrumen bagi kita semua untuk berkontribusi, baik melalui sumber daya, peran, maupun keahlian, guna mendukung ekosistem kenari yang berkelanjutan, dari hulu (lingkungan) hingga hilir (pasar). Semoga Konsorsium Kenari dapat menjadi wadah yang produktif dan solutif," harap Eben.
Dalam forum tersebut, Daniel Laure, seorang petani kenari asal Desa Bunga Kenari, Kecamatan Alor Timur Laut, bersama dengan Rubenson Haba, seorang Intermedia Service Provider (ISP) atau pengepul kenari yang juga merupakan inisiator dan pendamping Kelompok Pengepul Onong Tou di Desa Munaseli, Kecamatan Pantar, membagikan pengalaman mereka dan tantangan yang mereka hadapi.
Daniel telah menanam 700 pohon kenari dengan bibit yang diperoleh dari hutan konservasi dan ditanam di lahan pribadinya. Bahkan saat ini sudah ada 3.000 anakan kenari yang tumbuh. Dia memiliki impian untuk memiliki kebun kenari sendiri agar anak cucunya dapat melihat, memiliki, dan menikmati hasil kenari. Hingga saat ini, kenari yang diambil berasal dari kawasan hutan yang kepemilikannya belum jelas, baik milik pemerintah maupun masyarakat. Hal ini membuat para petani merasa khawatir untuk membudidayakan kenari di wilayah tersebut.
Petani kenari di Alor juga merasa khawatir bahwa kenari mungkin akan menghilang dari daerah mereka karena kurangnya pengembangan pasar dan penanaman kenari yang berkelanjutan. Mereka merasa khawatir bahwa jika mereka menanam kenari di lahan yang kepemilikannya tidak jelas, mereka mungkin dilarang untuk mengambil panennya di masa depan. Mereka saat ini hanya mengambil kenari dari area yang tidak memiliki pengawasan, dan jika ada yang mengawasi kenari tersebut, mereka akan meninggalkan panennya.
Di sisi lain, Rubenson merasa bersyukur karena sejak menjadi pengepul kenari pada tahun 2021, perekonomian masyarakat di desanya, khususnya ibu-ibu, telah mengalami peningkatan. Rubenson sangat bersyukur karena Wahana Visi Indonesia telah menjembatani dia dengan petani dan memperkenalkannya kepada mitra serta pasar kenari di luar daerahnya.
Saat ini, Rubenson menjalin kemitraan dengan UMKM Mama Ana yang dimiliki oleh Olvira Ballo, Direktur CV. Beumopu Elba Jaya di Kupang. Rubenson secara rutin mengirim kenari yang telah dikupas kulit arinya ke Kupang menggunakan kapal laut. Dia membeli kenari yang masih memiliki kulit ari dari petani di pasar, lalu mempekerjakan ibu-ibu di desanya untuk mengupas kulit ari kenari tersebut.
Dalam waktu 2 jam, setiap ibu mampu mengupas 8 kg kenari dan mendapatkan bayaran sebesar Rp 10.000 per kilogram kenari yang berhasil diupas. Rubenson merasa bahwa upaya ini lebih produktif dan menguntungkan daripada ibu-ibu hanya duduk-duduk dan menghabiskan waktu dengan percakapan sehari-hari.
Selain itu, Rubenson juga berharap akan ada perbaikan dalam infrastruktur jalan dan penyediaan transportasi kapal laut yang lebih efisien dan terjangkau sehingga distribusi kenari dapat menjadi lebih mudah dan murah.
Salah satu pengupas kenari, Sipora Bako, mengungkapkan bahwa dari pekerjaan mengupas kenari, dia dapat memenuhi kebutuhan sembilan anaknya. Dalam satu kali sesi mengupas kenari, dia biasanya mampu mengupas sekitar 2,5 kg hingga 10 kg kenari. Dari pekerjaan ini, dia dapat membiayai pendidikan anak-anaknya, memenuhi kebutuhan keluarganya, dan memberikan persembahan di gereja. Sipora berharap bahwa lebih banyak pohon kenari ditanam, promosi kenari ditingkatkan, dan pesanan untuk kenari semakin bertambah sehingga dia dan sesama pengupas kenari dapat menghasilkan lebih banyak pendapatan.
Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Alor, Basworo Kuntari, berharap agar kenari Alor dapat kembali dipasarkan secara lokal di Alor. Kepala Desa Batu Situti, Noor, berkomitmen untuk mengalokasikan anggaran desa untuk pengembangan budidaya kenari Alor pada tahun 2024. Dia menyatakan bahwa akan berkoordinasi dengan kepala-kepala desa terkait data persebaran kenari dan bersama-sama dengan Dinas PMD, mereka siap mengalokasikan anggaran untuk pengadaan anakan kenari dan pembangunan budidaya kenari di Desa Batu pada tahun 2024. Upaya ini bertujuan untuk memperkuat pengembangan kenari Alor dan memasarkannya secara lokal, sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat setempat.
Kini telah hadir kopi khas Indonesia dari Timurasa, tersedia dalam berbagai varian kopi seperti arabika, robusta, dan house blend Timurasa Indonesia. Klik timurasa.com atau login ke Instagram @timurasaindonesia

