Kakao Melonjak, Bagaimana Dengan Indonesia?
Minggu, 02 Juni 2024 - 18:06 WIBFoto: pixabay
Harga kakao berjangka telah meningkat sebesar 134,58% sejak awal tahun 2024. Peningkatan harga ini dipicu dari faktor alam.
Tanaman kakao telah terkena penyakit polong hitam dan virus tunas bengkak, serta banyak pohon yang telah melampaui potensi hasil maksimalnya karena tidak ada penanaman besar-besaran sejak awal tahun 2000-an.
Hujan deras memperburuk masalah penyakit pada tanaman, sementara fenomena cuaca El Niño menyebabkan kondisi yang lebih kering, sehingga hasil panen kakao pada tahun-tahun sebelumnya menurun.
Angin musiman yang merusak juga lebih ekstrem tahun ini, yang turut mempengaruhi hasil panen.
Indonesia telah menjadi pemain utama dalam ekspor kakao, dengan produk utama termasuk mentega kakao, bubuk kakao, pasta kakao, dan biji kakao yang belum difermentasi.
Sebagian besar produksi kakao diekspor ke luar negeri, mencakup lima benua: Asia, Afrika, Oseania, Amerika, dan Eropa, dengan pangsa pasar terbesar berada di Asia.
Pada tahun 2022, lima negara tujuan utama ekspor kakao Indonesia adalah India, Amerika Serikat, Malaysia, Tiongkok, dan Australia, yang menyumbang 56,68 persen dari total ekspor kakao Indonesia.
Di sisi lain, Eropa memimpin dalam impor biji kakao, menguasai sekitar 56 persen dari total impor global, jauh melampaui Amerika Latin dan Asia.
Volume impor Eropa mencapai 2,2 juta ton dengan nilai mencapai US$ 9,29 miliar. Permintaan tinggi akan biji kakao didorong oleh industri cokelat yang pesat di Eropa, diwakili oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Nestle, Mondelez, Mars, Hershey, Lindt & Sprüngli, dan Ferrero.
Namun, meskipun permintaan terus meningkat, produksi kakao mengalami penurunan, sehingga perkiraan defisit global melonjak menjadi 374.000 ton pada 2023/2024.
Akibatnya, Eropa dan perusahaan-perusahaan cokelat lainnya harus mengeluarkan lebih banyak dana untuk impor biji kakao.

