Tari Panyembrama, Tarian Yang Ditujukan Untuk Menyambut Pengunjung Bali
Jumat, 22 Januari 2021 - 14:10 WIBFoto : nowbali
Tarian tradisional Bali bersifat sakral, dan sebenarnya tidak cocok untuk pertunjukan komersil.
Banyak tarian ini digunakan untuk menyambut orang non-Bali, dan dalam konteks non-sakral, sehingga menjadi kontroversi di akhir tahun 1960-an.
Oleh karena itulah diperlukan tarian sekuler, yang dapat digunakan di luar pura, terutama bagi wisatawan, sehingga tetap menjaga kesucian tarian tradisional.
Panyembrama adalah salah satu bentuk tarian, termasuk oleg tamulilingan, yang muncul dari situasi ini dan ditujukan untuk penonton non-Bali (khususnya turis asing).
I Wayan Beratha, seorang koreografer di Konservatori Karawitan yang pandai menari tradisional Bali, ditugasi oleh organisasinya untuk menciptakan tarian baru sekuler.
Untuk menciptakan apa yang akan menjadi panyembrama, Beratha memadukan gerakan-gerakan terindah dari tarian tradisional seperti legong, condong, dan pendet.
Landasan dalam tari tradisional ini juga membuat panyembrama diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk tari klasik oleh kritikus seni A. M. Hermin Kusmayati.
Nama panyembrama, berasal dari bahasa Bali sambrama, berarti "selamat datang". Tarian ini mencerminkan tujuannya sebagai tarian penyambutan.
Dalam acara yang berdurasi panjang, tarian ini biasanya dibawakan terlebih dahulu, terutama sebelum tarian legong versi sekuler.
Para penari - selalu wanita muda - datang ke atas panggung membawa piring logam (biasanya perak atau aluminium) dengan dupa dan bunga di dalamnya.
Para penari ini, berjumlah dua atau lebih, mengenakan pakaian berlapis-lapis dengan hiasan corak emas yang disebut prada.
Di sekujur tubuh mereka memakai kamben serta kain yang dibungkus rapat dari dada sampai pinggang. Di kepala mereka mereka memakai hiasan kepala emas dan bunga kamboja

