Nyobeng, Upacara Rasa Syukur Menyambut Panen
Sabtu, 23 Januari 2021 - 15:58 WIBFoto : yukepo
Nyobeng / Nyobong adalah ritual pengayauan suku Dayak kuno yang dilakukan untuk menunjukkan rasa syukur atas perdamaian dan panen yang baik.
Ritual ini terdiri dari memandikan atau membersihkan tengkorak manusia yang dikorbankan.
Upacara tersebut dilakukan oleh Suku Dayak Nyobeng Bidayu, Dusun Sebujit, Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Bengkayang dan Kalimantan Barat, Indonesia.
Dalam upacara tersebut, manusia dipenggal dan tengkoraknya diawetkan. Ritual ini berlangsung selama tiga hari di bulan Juni, dipimpin oleh sesepuh Nyobeng Sebujit.
Saat para tamu datang, para peserta mengarahkan senjatanya ke langit dan memberikan salut sebagai tanda penghormatan kepada leluhur sebelum memulai nyobeng.
Para tamu disambut untuk menunjukkan ikatan antara desa dan masyarakat di luar desa.
Kemudian, seorang tokoh masyarakat setempat akan melemparkan seekor anjing ke udara dan tamu berusaha menebasnya dengan pedang saat jatuh, mengulangi proses tersebut jika hewan tersebut mencapai tanah hidup-hidup.
Sang tetua kemudian mengulangi proses tersebut dengan seekor ayam. Nantinya, warga akan melempar telur ayam ke arah para tamu. Memecah telur sedemikian rupa yang diaetikan sebagai bentuk ketulusan. Jika telur tidak pecah, berarti tamu yang datang ke desa tidak tulus.
Para tetua menyimpan tengkorak di dalam kotak dengan kalung babi hutan. Suku Dayak Bidayuh menganggap kepala sebagai simbol identitas manusia.
Mereka menganggap tengkorak sebagai sihir paling kuat di dunia, mampu meningkatkan hasil panen dan menangkal roh jahat.
Meski pengayauan telah lama ditinggalkan oleh masyarakat Dayak Bidayuh, ritual nyobeng yang dimodifikasi terus dilestarikan sebagai cara tradisional untuk mewujudkan kedamaian dan rasa syukur atas panen yang baik.

