Kakao Trinitario: Persilangan Kakao Eksotis yang Berkualitas Tinggi
Sabtu, 07 September 2024 - 14:07 WIBFoto: idntimes
Kakao merupakan bahan utama pembuatan cokelat, dan di dunia ini terdapat tiga varietas utama kakao yaitu Forastero, Criollo, dan Trinitario.
Dari ketiganya, Trinitario adalah jenis kakao yang dihasilkan dari persilangan alami antara Criollo yang halus dan Forastero yang kuat.
Kombinasi unik ini memberikan kakao Trinitario profil rasa yang lebih kompleks serta ketahanan yang lebih baik terhadap penyakit.
Nama Trinitario berasal dari Pulau Trinidad, di mana varietas ini pertama kali muncul pada abad ke-18.
Sejarah mencatat bahwa tanaman kakao Criollo yang ditanam di Trinidad hampir punah karena serangan penyakit pada tahun 1727.
Para petani lokal kemudian mulai menanam varietas Forastero yang lebih tahan penyakit. Seiring waktu, terjadilah persilangan alami antara Criollo dan Forastero, sehingga menghasilkan varietas baru yang dikenal sebagai Trinitario.
Kakao Trinitario memiliki sifat-sifat unggul dari kedua induknya. Dari Criollo, Trinitario mewarisi rasa yang kompleks dan aroma yang halus, sementara dari Forastero, kakao ini mewarisi ketahanan terhadap penyakit dan produktivitas yang lebih tinggi.
Ini membuatnya menjadi salah satu varietas kakao yang diinginkan di pasar cokelat premium.
Trinitario dikenal sebagai kakao berkualitas tinggi dengan sejumlah karakteristik yang menonjol, diantaranya:
1. Rasa yang kompleks
Kakao Trinitario dikenal karena rasa dan aromanya yang kaya dan beragam. Rasa ini bisa bervariasi dari buah-buahan, kacang, hingga sedikit rasa bunga, tergantung pada tempat penanaman dan pengolahannya.
2. Keseimbangan antara kualitas dan ketahanan
Sebagai hasil persilangan antara Criollo dan Forastero, Trinitario menawarkan kombinasi antara rasa premium dan ketahanan yang lebih kuat terhadap kondisi lingkungan yang sulit dan penyakit tanaman.
3. Budidaya yang tersebar luas
Meskipun kakao Trinitario tidak sepopuler Forastero, varietas ini ditanam di berbagai wilayah tropis, termasuk Amerika Selatan, Karibia, Afrika, dan Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Produksi Trinitario diperkirakan hanya menyumbang sekitar 10-15% dari produksi kakao global, tetapi permintaan terhadapnya terus meningkat, terutama dalam industri cokelat premium.

