Makanan Lezat Yang Tumbuh Di Danau Toba
Senin, 14 Oktober 2024 - 10:32 WIBFoto: theasianparent
Ada lima destinasi wisata yang dipromosikan pemerintah sebagai kawasan super prioritas yang digadang-gadang mampu menarik jutaan wisatawan.
Dilansir infopublik.id, kelima destinasi tersebut meliputi Likupang, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Danau Toba.
Setiap kawasan ini menawarkan berbagai daya tarik, tidak hanya melalui atraksi wisata, tetapi juga keindahan alam dan warisan budayanya.
Sebagai contoh, di wilayah Danau Toba, terdapat tanaman khas yang dikenal dengan nama andaliman (Zanthoxylum acanthopodium).
Tanaman ini, yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Sichuan Pepper, tumbuh liar di daerah Toba Samosir dan Tapanuli Utara. Andaliman tumbuh subur di ketinggian antara 1.200 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut, dengan suhu ideal sekitar 15 hingga 18 derajat Celcius. Tanaman ini bisa mencapai tinggi antara 3 hingga 8 meter.
Batang dan daun tanaman andaliman dipenuhi duri. Daunnya majemuk, berbentuk sirip ganjil, dan memiliki kelenjar minyak. Bagian atas daun muda berwarna hijau, sedangkan bagian bawahnya agak kemerahan.
Bunga andaliman tumbuh di ketiak daun, berbentuk majemuk, berukuran kecil, dengan kelopak berjumlah 5 hingga 7 yang tidak saling menyatu.
Bunganya berwarna kuning pucat, memiliki benang sari 5 sampai 6, dengan kepala sari berwarna kemerahan, serta putik berjumlah 3 hingga 4.
Buah andaliman kecil dan bergerombol menyerupai lada, yang membuatnya sering disebut sebagai "merica Batak" di Sumatera Utara.
Buah muda berwarna hijau dan berubah merah ketika matang. Saat digigit, buah ini terasa getir dan aromanya yang khas merangsang produksi air liur.
Kandungan hydroxy-alpha-sanshool pada andaliman memberikan sensasi getir dan kebas pada lidah.
Andaliman termasuk dalam keluarga jeruk (Citrus), sehingga kaya akan vitamin C dan E yang penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Menurut peneliti dari Balai Besar Industri Agro Kementerian Perindustrian, Rienoviar, andaliman mengandung antioksidan berupa alkaloid, glikosida, tannin, fenol, dan flavonoid yang dapat digunakan sebagai pengawet alami, menggantikan pengawet buatan yang lebih berbahaya.
Serbuk andaliman juga memiliki sifat antimikroba yang efektif menghambat pertumbuhan bakteri seperti Escherichia coli, Salmonella typhimurium, Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas fluorescens.
Selain itu, andaliman dapat diekstrak menjadi minyak atsiri yang mengandung senyawa terpen, seperti geraniol, linalool, dan limonen, yang memiliki sifat antioksidan.
Andaliman bukan hanya populer di Indonesia, tetapi juga di Asia Timur dan Asia Selatan, seperti Cina, Jepang, Korea, dan India. Di Jepang, rempah ini dikenal sebagai sansho, sedangkan di Korea disebut sanchonamu atau chopinamu.
Bagi masyarakat Batak, andaliman adalah bumbu utama dalam masakan tradisional, seperti arsik (ikan bumbu kuning), saksang (gulai daging babi), dan mi gomak.
Selain itu, andaliman juga sering digunakan sebagai penyedap dalam sambal untuk menambah cita rasa pedas.
Aktivis lingkungan, Marandus Sirait, mengungkapkan bahwa penggunaan andaliman kini semakin berkembang, bahkan telah digunakan sebagai bumbu untuk pizza dan minuman tradisional seperti bandrek.
Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Utara, Ria Novida Telambanua, menegaskan bahwa andaliman bukan hanya sekadar bumbu masakan, tetapi juga merupakan kekayaan alam dan aset berharga dari Tano Batak.

