Tantangan Yang Harus Diatasi Untuk Mengembangkan Industri Kopi Indonesia
Kamis, 14 November 2024 - 20:24 WIBFoto: nescafe
Indonesia dikenal luas sebagai penghasil kopi specialty dengan karakteristik unik. Namun masih banyak tantangan yang harus diatasi untuk mengembangkan industri kopi di masa depan.
Dilansir dari cnbcindonesia.com, Pranoto Soenarto, Wakil Ketua Umum III Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), mengungkapkan pandangannya mengenai industri kopi Indonesia di tengah keikutsertaannya dalam kelompok BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China).
Menurut Pranoto, meskipun data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan produksi kopi Indonesia hingga 30%, hal ini lebih terlihat dari segi nilai daripada volume.
“Kenaikan nilai ini disebabkan oleh lonjakan harga kopi, dari Rp20-25 ribu per kilogram menjadi Rp76 ribu, sehingga meskipun volumenya tetap, nilai yang dihasilkan meningkat tiga kali lipat,” jelas Pranoto dalam wawancara di program Squawk Box, CNBC Indonesia (Senin, 28/10/2024).
Kopi specialty Indonesia memiliki daya tarik unik, terutama yang ditanam di daerah vulkanis seperti Aceh Gayo, Mandailing, dan Toraja. Cita rasanya yang khas sulit ditemukan di tempat lain.
“Kopi kita selalu dicari di pasar internasional karena keistimewaannya. Setiap kali panen, kopi specialty Indonesia cepat diserap pasar global,” tambah Pranoto.
Berbeda dengan produsen kopi lainnya seperti Vietnam yang lebih fokus pada produksi massal, Indonesia unggul dalam kualitas kopi specialty.
Keunikan ini terbukti dari capaian transaksi senilai US$ 20,6 juta pada ajang Specialty Coffee Expo 2023 di Portland, Amerika Serikat.
Menurut laporan Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan, pameran ini memperlihatkan tingginya minat kopi specialty Indonesia, khususnya di pasar premium AS, yang menjadi salah satu tujuan ekspor utama.
Masuknya Indonesia ke dalam BRIC membawa perubahan dalam dinamika perdagangan kopi. Brasil, yang merupakan anggota BRIC, tetap menjadi produsen utama dengan produksi yang jauh lebih besar dibanding Indonesia.
Di sisi lain, China juga terus mengembangkan produksi kopi di wilayah Yunnan dan Hainan dengan volume yang semakin meningkat. “Meski produksi mereka besar, kopi Indonesia tetap dipilih dunia karena kualitas specialty-nya,” ujar Pranoto.
Pranoto melihat potensi ekspor ke pasar baru seperti Rusia dan Afrika Selatan, di mana konsumsi kopi masih belum berkembang pesat.
Namun Indonesia juga perlu mengimpor kopi dari Brasil untuk memenuhi kebutuhan blending oleh industri roaster dalam negeri.
Tantangan lain bagi industri kopi Indonesia adalah dampak perubahan iklim dan penyakit tanaman yang mempengaruhi produksi negara produsen utama seperti Brasil dan Vietnam.
Situasi ini memberi peluang bagi Indonesia untuk mengisi kekosongan pasokan di pasar global.
Oleh karena itu Pranoto menekankan pentingnya memerhatikan masalah penyakit tanaman selain perubahan iklim.
Pertumbuhan industri roaster domestik juga mempengaruhi volume ekspor kopi Indonesia. “Dulu, ekspor kita besar, tapi sekarang dengan meningkatnya jumlah roaster lokal, kopi lebih banyak diserap pasar dalam negeri,” kata Pranoto.
Hal ini menunjukkan adanya peningkatan konsumsi kopi dalam negeri, terutama dengan berkembangnya tren gelombang ketiga konsumsi kopi, di mana specialty coffee dan kopi single origin semakin diminati.
Untuk meningkatkan daya saing global, pemerintah dan industri kopi Indonesia terus berupaya meningkatkan kualitas dan branding kopi specialty melalui keikutsertaan dalam ajang internasional seperti Specialty Coffee Expo dan Kontes Kopi Specialty Indonesia (KKSI).
Partisipasi ini bertujuan mempromosikan kopi Indonesia dan membangun citra positif di pasar global.
Selain itu dukungan pemerintah dalam bentuk program restrukturisasi mesin untuk industri dan pelatihan sumber daya manusia, termasuk barista dan roaster, sangat penting untuk menjaga kualitas kopi specialty Indonesia.
Dengan upaya ini, diharapkan kopi specialty Indonesia tetap mampu bersaing di pasar global yang semakin kompetitif, terutama di tengah dominasi negara-negara BRIC.
Indonesia memiliki potensi besar untuk terus mengembangkan kopi specialty dengan keunikan kopi vulkanisnya.
Menjaga konsistensi kualitas dan terus berinovasi menjadi kunci bagi Indonesia untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu produsen kopi specialty terbaik di dunia.
Kerjasama antara pemerintah dan pelaku industri diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional sekaligus mengembangkan pasar domestik yang semakin tumbuh.

