Tips Menilai Kualitas Cokelat
Jumat, 06 Desember 2024 - 22:01 WIBFoto: bimata
Indonesia merupakan salah satu negara produsen kakao utama di dunia. Letaknya yang berada di garis khatulistiwa dengan iklim tropis menjadikan Indonesia tempat yang sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman kakao.
Dilansir dari smesco.go.id, menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 2019, Indonesia menduduki posisi ketiga sebagai penghasil kakao terbesar di dunia.
Posisi pertama ditempati oleh Pantai Gading dengan produksi 2.180.000 ton (39,58%), diikuti Ghana di urutan kedua dengan produksi 811.700 ton (14,74%). Indonesia menghasilkan 783.978 ton (14,24%), sedikit di bawah Ghana.
Negara-negara lain yang masuk dalam daftar adalah Nigeria (350.146 ton), Ekuador (283.680 ton), Kamerun (280.000 ton), Brasil (259.425 ton), Peru (135.928 ton), Kolombia (102.154 ton), dan Republik Dominika (88.961 ton).
Sebagian besar produksi kakao di Indonesia terkonsentrasi di Pulau Sulawesi, khususnya di Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Cokelat: Produk Populer dengan Manfaat Kesehatan
Cokelat adalah salah satu produk yang paling digemari di dunia. Selain rasanya yang lezat, cokelat memberikan sensasi unik seperti lelehan lembut di mulut dan aroma yang khas.
Terutama pada cokelat hitam (dark chocolate), produk ini diketahui memiliki manfaat kesehatan karena kandungan polifenolnya. Polifenol merupakan senyawa aktif yang berperan sebagai antioksidan.
Tingkat Konsumsi Cokelat di Indonesia
Meskipun menjadi produsen kakao besar, konsumsi cokelat di Indonesia tergolong rendah. Rata-rata masyarakat Indonesia hanya mengonsumsi sekitar 0,5 kg cokelat per orang per tahun. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan konsumsi cokelat di negara-negara seperti Swiss, Norwegia, dan Jerman, yang mencapai sekitar 10 kg per orang per tahun.
Untuk meningkatkan konsumsi cokelat, diperlukan edukasi yang menyeluruh mengenai manfaat cokelat, pemberdayaan petani dan pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang memproduksi cokelat, serta penguatan ketahanan pangan.
Kampanye yang efektif dapat mendorong masyarakat untuk lebih banyak mengonsumsi cokelat, terutama dengan menonjolkan manfaat kesehatannya.
Peningkatan Kualitas Cokelat di Indonesia
Selain edukasi, penting untuk meningkatkan kualitas produk cokelat. Pemahaman tentang standar kualitas cokelat harus disampaikan kepada para produsen, terutama UKM. Berikut adalah beberapa parameter penilaian kualitas cokelat:
1. Penampilan
Cokelat berkualitas memiliki warna yang seragam dan permukaan yang mengkilap. Permukaan yang kusam atau munculnya bercak putih menunjukkan proses pembentukan kristal yang tidak sempurna atau ketidakstabilan suhu selama penyimpanan.
2. Snap (Kekerasan)
Cokelat yang baik memiliki suara “snap” yang jelas saat dipatahkan. Jika teksturnya lembek dan sulit dipatahkan, ini menandakan proses tempering tidak optimal.
3. Sifat Leleh
Cokelat berkualitas meleleh di lidah pada suhu tubuh manusia (33-34°C). Cokelat dengan tempering buruk cenderung memiliki titik leleh yang lebih rendah, sehingga tidak memberikan sensasi yang diharapkan.
4. Kekasaran Partikel
Cokelat berkualitas memiliki partikel halus dengan ukuran di bawah 30 mikron, sehingga teksturnya terasa lembut di lidah tanpa partikel kasar.
5. Sifat Alir
Sifat alir cokelat dipengaruhi oleh kadar lemak dan kadar airnya. Cokelat yang terlalu lengket di mulut biasanya memiliki kadar air tinggi dan lemak rendah, yang dapat mengurangi kualitasnya.
6. Rasa dan Aroma
Rasa cokelat baru terasa optimal setelah cokelat meleleh di mulut. Cokelat berkualitas buruk memiliki rasa asam, sepat, atau aroma seperti tanah basah.
Dengan meningkatkan kualitas cokelat dan memperluas edukasi tentang manfaatnya, Indonesia dapat memaksimalkan potensi sebagai salah satu produsen kakao terbesar di dunia sekaligus meningkatkan konsumsi dalam negeri.

