Cuaca Tak Menentu, Harga Kopi Melonjak Mendekati Rekor Tertinggi
Rabu, 18 Desember 2024 - 19:06 WIBFoto: pixabay
Fluktuasi cuaca yang tak menentu dan periode kekeringan berkepanjangan membuat harga kopi melonjak mendekati rekor tertinggi dalam hampir 50 tahun.
Dilansir dari cnbcindonesia, pada Selasa (10/12/2024), harga kopi arabika berjangka untuk pengiriman Maret mencapai level tertinggi secara intraday di 348,35 sen per pon.
Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak tahun 1977, ketika fenomena salju merusak sebagian besar perkebunan kopi di Brasil.
Biji kopi arabika, varietas kopi paling digemari di dunia, dikenal dengan cita rasanya yang lembut dan manis.
Kopi ini mendominasi sekitar 60%-70% pangsa pasar global dan sering digunakan dalam sajian espresso serta minuman kopi racikan barista. Jika melihat pergerakan harga selama setahun terakhir, harga kopi arabika tercatat naik sekitar 70%.
Kenaikan serupa juga dialami kopi robusta. Pada akhir November 2024, harga kopi robusta berjangka mencatatkan rekor tertinggi baru.
Berbeda dengan arabika, biji kopi robusta terkenal memiliki rasa yang lebih kuat dan pahit, sehingga sering digunakan sebagai bahan utama kopi instan.
Lonjakan harga ini dipengaruhi oleh kekeringan panjang yang melanda beberapa wilayah produsen utama kopi. Pasokan global sangat bergantung pada negara-negara seperti Brasil, Vietnam, dan Indonesia.
Menurut laporan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), produksi kopi Indonesia untuk musim panen 2024/2025 diperkirakan turun 8% menjadi 10 juta kantong (1 kantong setara 60 kg).
Produksi kopi robusta dari Sumatera Selatan, yang menyumbang sekitar 85% produksi nasional, mengalami pemulihan yang tidak merata akibat cuaca buruk.
Sementara itu, Sumatera Utara menjadi pengecualian dengan produksi kopi arabika yang stabil di 1,4 juta kantong.
Stabilitas ini didukung oleh kondisi cuaca yang mendukung serta penerapan teknis pertanian seperti penggunaan pohon penaung, pengendalian hama, dan sistem tumpang sari dengan tanaman sayuran.
Meski produksi turun, Indonesia sebagai salah satu eksportir kopi terbesar masih memperoleh keuntungan.
Ekspor kopi Indonesia diproyeksikan tumbuh 18% dibandingkan tahun lalu menjadi 5,2 juta kantong, meskipun angka ini lebih rendah dari proyeksi awal.
Pasar utama ekspor kopi Indonesia tetap didominasi Amerika Serikat dengan 15%, disusul oleh Mesir (11%), Malaysia (9%), dan Jepang (6%).
Namun pasar Uni Eropa menghadapi hambatan karena implementasi regulasi baru terkait deforestasi (EUDR) yang memperketat persyaratan impor kopi.
Kebijakan ini menambah tantangan bagi pelaku industri kopi dalam memenuhi standar yang ditetapkan.

