Tren Pertanian Organik Dunia, Bagaimana Dengan Indonesia?
Jumat, 27 Desember 2024 - 19:25 WIBFoto: pixabay
Dunia pangan terus bergerak dinamis. Rantai pasok makanan saat ini mengalami pergeseran yang signifikan akibat berbagai faktor seperti kebutuhan akan ketahanan pangan, evolusi preferensi konsumen, regulasi pemerintah, dan pesatnya perkembangan e-commerce.
Siapa sangka, pandemi justru membuat minat masyarakat terhadap makanan organik semakin meningkat? Data Nielsen menunjukkan lonjakan penjualan makanan organik hingga 25% di Amerika Serikat dan 18% di Inggris pada Maret 2020.
Pandemi telah mengubah lanskap industri makanan global, memberikan angin segar bagi sektor makanan organik. Peningkatan permintaan akan makanan organik membuka peluang besar bagi para pelaku industri. Namun, tantangan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat juga perlu diperhatikan. Pertumbuhan berkelanjutan industri makanan organik sangat bergantung pada pengembangan pertanian organik yang lebih luas dan berkelanjutan.
Indonesia memiliki luas lahan pertanian organik sebesar 254 ribu hektar, menempati posisi ke-32 dalam skala global. Angka ini masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan total luas lahan pertanian di Indonesia yang mencapai ratusan juta hektar. Beberapa komoditas utama yang dibudidayakan secara organik di Indonesia antara lain padi, kopi, kakao, buah-buahan tropis, minyak nabati, dan berbagai jenis sayuran.
Pada tahun 2021, pasar makanan dan minuman organik di Indonesia tumbuh sebesar 7,9%, didominasi oleh beras organik dengan pertumbuhan 8,7%. Meskipun kopi organik menjadi satu-satunya kategori minuman organik utama, pertumbuhannya cenderung stagnan hingga tahun 2025. Potensi pasar produk organik Indonesia sangat menjanjikan, namun perlu dukungan pemerintah untuk memperluas lahan pertanian organik dan membuka akses pasar yang lebih luas, baik domestik maupun internasional.

