Gula Aren dan Perkembangan Kedai Kopi Kekinian
Sabtu, 15 Februari 2025 - 10:26 WIBFoto: liputan6
Berkembangnya kedai kopi di berbagai kota menjadi peluang besar bagi para pecinta kopi sekaligus menggerakkan roda ekonomi di berbagai sektor.
Melansir rasikafm.com, tak hanya menguntungkan para pelaku usaha di industri hilir, tetapi juga mendukung ekosistem yang lebih luas, termasuk para produsen gula.
Gula menjadi salah satu komponen penting dalam penyajian kopi, terutama bagi mereka yang kurang menyukai rasa pahit. Jika sebelumnya gula pasir lebih umum digunakan, kini banyak kedai kopi modern yang beralih ke gula aren sebagai pemanis utama. Tren ini semakin digemari oleh anak muda yang sering menghabiskan waktu di kedai kopi.
Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya produksi gula aren, termasuk di Dusun Kemambang, Desa Kemambang, Banyubiru, Kabupaten Semarang.
Daerah ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil gula aren tradisional yang dibuat secara turun-temurun. Selain berkontribusi pada perekonomian lokal, produksi gula aren juga mencerminkan kearifan budaya masyarakat setempat.
Proses Pembuatan Gula Aren Secara Tradisional
Eko Kadarsih adalah salah satu produsen gula aren di Desa Kemambang. Bersama suaminya, ia telah menekuni usaha ini sejak dua tahun lalu dengan tetap mempertahankan metode tradisional.
Prosesnya dimulai dengan pengambilan nira dari pohon aren oleh sang suami. Setelah terkumpul, nira kemudian direbus selama sekitar enam jam hingga berubah menjadi karamel. "Setelah mengental, kami aduk lalu dicetak dengan ukuran satu kilogram hingga mengeras," ungkap Kadarsih.
Selain dalam bentuk padat, ia juga memproduksi gula aren cair. Menurutnya, varian cair lebih menguntungkan karena proses pembuatannya lebih cepat dan hemat bahan bakar. Gula aren cair yang ia buat tidak menggunakan bahan pengawet, sehingga hanya bertahan sekitar satu bulan. Untuk kemasan 250 mililiter, ia menjualnya dengan harga Rp12.500.
Sebagian besar pelanggannya berasal dari Kabupaten Semarang, Kota Semarang, dan Salatiga. Meski gula aren cair banyak diminati, ia tetap menjadikan gula aren padat sebagai produk utama karena sudah memiliki pelanggan tetap yang membeli setiap hari. Saat ini, harga gula aren padat mencapai Rp20 ribu per kilogram.
"Dalam sehari, jika produksi sedang banyak, kami bisa menghasilkan 10 hingga 12 kilogram. Namun, jika ketersediaan nira sedikit, paling sedikit hanya bisa membuat tiga kilogram," jelasnya.
Tantangan dan Dukungan Pemerintah
Meskipun permintaan gula aren terus meningkat, para produsen gula aren tradisional masih menghadapi kendala dalam hal pemasaran. Banyak dari mereka yang kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas karena pemasaran produk masih terbatas di sekitar desa atau wilayah terdekat.
Pemerintah Desa Kemambang terus memberikan dukungan dengan mengikutsertakan para perajin gula aren dalam berbagai pameran. Upaya ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran dan membuka peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk skala nasional.

