Apa Yang Terjadi Pada Otak Ketika Minum Kopi Di Pagi Hari
Selasa, 18 Februari 2025 - 22:18 WIBFoto: pixabay
Bagi banyak orang, memulai hari tanpa secangkir kopi terasa seperti hal yang mustahil. Kafein dalam kopi dikenal dapat meningkatkan fokus dan energi, namun sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa konsumsi kafein harian ternyata dapat memengaruhi struktur otak. Otak manusia terdiri dari dua komponen utama: materi abu-abu (gray matter) yang berperan dalam proses berpikir, dan materi putih (white matter) yang berfungsi sebagai penghubung antar sel saraf.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kafein dapat menyebabkan penurunan sementara volume materi abu-abu. Namun, di sisi lain, ada juga temuan yang menyatakan bahwa kafein dapat memberikan efek perlindungan terhadap penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. Sebuah studi pada tahun 2021 secara khusus meneliti bagaimana konsumsi kafein memengaruhi volume materi abu-abu pada orang muda dan sehat. Salah satu pertanyaan utama yang diajukan adalah apakah perubahan ini terkait dengan efek kafein terhadap tidur, mengingat kurang tidur juga dikaitkan dengan penurunan materi abu-abu.
Menurut laporan New Atlas, penelitian ini melibatkan 20 partisipan yang menjalani dua periode uji coba selama 10 hari. Pada satu periode, mereka mengonsumsi tiga tablet kafein setiap hari, sementara pada periode lainnya, mereka mengonsumsi tablet plasebo tanpa kafein. Setelah setiap periode, volume materi abu-abu diukur menggunakan fMRI, dan aktivitas gelombang lambat saat tidur dinilai melalui EEG.
Hasilnya menunjukkan bahwa setelah 10 hari mengonsumsi kafein, volume materi abu-abu partisipan mengalami penurunan signifikan. Sebaliknya, tidak ada perubahan yang terjadi selama periode plasebo. Yang menarik, penelitian ini tidak menemukan perbedaan dalam kualitas tidur antara kedua periode, menunjukkan bahwa penurunan volume materi abu-abu kemungkinan disebabkan oleh efek langsung kafein, bukan gangguan tidur.
Dampak paling jelas terlihat di lobus temporal medial kanan, area otak yang melibatkan hippocampus, pusat memori dan navigasi spasial. Temuan ini didukung oleh penelitian pada tahun 2022 yang menemukan bahwa konsumsi kafein jangka panjang dapat menyebabkan perubahan molekuler pada hippocampus tikus. Carolin Reichert, salah satu peneliti dari Universitas Basel, menjelaskan bahwa perubahan volume materi abu-abu akibat kafein bersifat sementara dan akan kembali normal setelah konsumsi kafein dihentikan.
"Kami belum memiliki perbandingan sistematis antara peminum kopi rutin dan mereka yang jarang atau tidak mengonsumsi kafein sama sekali," kata Reichert. Ia juga menegaskan bahwa temuan ini tidak berarti kafein merusak fungsi kognitif. Sebaliknya, banyak penelitian menunjukkan bahwa kafein dapat melindungi dari penurunan kognitif, terutama pada orang tua yang berisiko terkena Alzheimer atau Parkinson.

