Minahasa dan Sejarah Masuknya Kakao ke Indonesia
Selasa, 25 Februari 2025 - 19:50 WIBFoto: cnbc
Saat membahas cokelat, Minahasa menjadi salah satu daerah yang tidak bisa dilepaskan dari sejarahnya. Kabupaten yang berjarak sekitar 40 km dari Manado, Sulawesi Utara ini merupakan tempat pertama kali kakao, bahan dasar cokelat, diperkenalkan ke Indonesia.
Melansir Koran Sulindo, menurut catatan sejarah, kakao pertama kali dibawa ke Minahasa oleh orang-orang Spanyol pada tahun 1560.
Tanaman ini berasal dari hutan tropis di Amerika Tengah dan bagian utara Amerika Selatan. Sebelum mengenalkan kakao ke Nusantara, bangsa Spanyol telah lebih dulu memperkenalkannya ke Eropa. Bahkan, pada pertengahan abad ke-16, sejumlah pabrik pengolahan kakao sudah berdiri di berbagai kota di Eropa, seperti Lisbon (Portugal), Genoa, Turin (Italia), dan Marseilles (Prancis).
Perkembangan Kakao di Hindia Belanda
Pada awalnya, pamor kakao masih kalah dibandingkan dengan kopi dan teh yang lebih dulu populer sebagai komoditas perdagangan.
Pemerintah Hindia Belanda baru mulai serius mengembangkan tanaman ini pada abad ke-18. Seiring dengan meningkatnya permintaan di pasar internasional pada abad ke-19, produksi kakao di Indonesia pun semakin diperluas.
Hingga awal abad ke-20, kakao masih belum banyak digunakan dalam industri makanan dan minuman di Indonesia.
Hampir seluruh hasil perkebunan kakao di Hindia Belanda diekspor ke Eropa. Namun, pada pertengahan abad ke-20, ketika produksi kakao mulai berlimpah, pabrik-pabrik pengolahan kakao mulai bermunculan di dalam negeri. Kakao yang tidak terjual di pasar ekspor kemudian diolah menjadi lemak kakao dan bubuk cokelat.
Bubuk cokelat ini dimanfaatkan sebagai bahan dasar minuman, tambahan rasa untuk roti dan kue, seperti yang telah lama dilakukan di negara-negara seperti Inggris, Jerman, dan Prancis.
Bandung menjadi salah satu pusat pengolahan kakao di Hindia Belanda, terutama setelah C.J. van Houten mendirikan pabriknya di sana pada pertengahan abad ke-20.
Sebagai informasi, C.J. van Houten adalah penemu metode ekstraksi biji kakao yang menghasilkan lemak kakao dan bubuk cokelat, sebuah inovasi yang ia lakukan pada tahun 1828 di Amsterdam, Belanda.
Cokelat sebagai Simbol Status Sosial di Era Kolonial
Seiring dengan berkembangnya industri cokelat di Hindia Belanda, muncul berbagai iklan yang mengklaim manfaat cokelat, salah satunya sebagai penambah stamina.
Di masa kolonial, cokelat bahkan dianggap sebagai simbol status sosial. Minuman berbahan dasar bubuk cokelat identik sebagai minuman yang hanya dikonsumsi oleh kaum bangsawan dan elit Eropa.
Kini, permintaan kakao terus meningkat, terutama di kawasan Asia, yang saat ini menjadi pasar kakao terbesar kedua di dunia. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara produsen kakao terbesar di Asia.
Tantangan dan Persebaran Kakao di Indonesia
Meskipun Indonesia memiliki produksi kakao yang besar, petani kakao masih menghadapi berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, rendahnya hasil panen, dan serangan penyakit tanaman.
Setiap wilayah di Indonesia memiliki kondisi cuaca yang berbeda, sehingga mempengaruhi pertumbuhan kakao secara keseluruhan.
Saat ini, luas perkebunan kakao di Indonesia diperkirakan mencapai 1,5 juta hektare, tersebar di berbagai daerah seperti Sulawesi, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jawa Barat, Papua, dan Kalimantan Timur.
Dari total produksi nasional, sekitar 75% kakao Indonesia berasal dari Sulawesi, dengan Sulawesi Selatan sebagai penghasil utama, disusul oleh Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
Kakao dari Sulawesi Selatan umumnya dipasarkan dalam bentuk biji kakao olahan yang siap diekspor ke berbagai negara.
Dengan sejarah panjangnya dan perannya yang besar dalam perekonomian, kakao tetap menjadi salah satu komoditas penting bagi Indonesia hingga saat ini.

