Sejarah Kakao dan Cokelat: Dari Amerika Selatan ke Indonesia
Selasa, 25 Februari 2025 - 21:55 WIBFoto: gokomodo
Cokelat dan kakao adalah dua istilah yang sering kita dengar, terutama karena keduanya berperan penting dalam dunia kuliner.
Cokelat dengan rasa manisnya yang khas menjadi favorit banyak orang, terutama anak-anak dan remaja.
Selain itu, cokelat juga kerap dijadikan hadiah spesial, seperti saat perayaan Valentine atau momen istimewa lainnya.
Melansir Koran Sulindo, tanaman kakao (Theobroma cacao) berasal dari kawasan Amerika Selatan, dan dari biji tanaman inilah cokelat dihasilkan.
Kakao mengandung berbagai nutrisi seperti lemak, protein, dan zat gizi lainnya yang baik untuk tubuh. Berbagai produk berbahan dasar kakao yang populer di seluruh dunia antara lain permen cokelat, es krim cokelat, bubuk kakao (cocoa powder), dan lemak kakao (cocoa butter).
Asal-Usul Kakao dan Perjalanannya ke Berbagai Benua
Apakah Anda tahu bagaimana tanaman kakao sampai ke Indonesia? Kakao awalnya ditemukan di hutan tropis Amerika Tengah dan Amerika Selatan bagian utara.
Bangsa Indian Maya dan Astek adalah masyarakat pertama yang membudidayakan tanaman ini untuk dijadikan makanan dan minuman.
Jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, suku Maya yang tinggal di wilayah Guatemala, Yucatan, dan Honduras sudah memanfaatkan kakao.
Ketika Spanyol menaklukkan suku Astek pada tahun 1591, mereka menemukan bahwa masyarakat Astek telah mengolah biji kakao menjadi minuman yang disebut "chocolatl."
Suku Indian mengolah biji kakao dengan cara menjemurnya di bawah sinar matahari, lalu menyangrainya di dalam pot tanah.
Setelah itu, biji kakao digiling menggunakan lumpang batu dan dicampur dengan jagung serta rempah-rempah untuk membuat makanan mirip dodol.
Jika ingin dijadikan minuman, campuran tersebut diaduk dengan air dan vanili hingga menghasilkan minuman cokelat khas mereka.
Menariknya, pada zaman itu kakao bukan hanya digunakan sebagai makanan atau minuman, tetapi juga dijadikan alat tukar, upeti, serta dipakai dalam berbagai ritual keagamaan dan pengobatan.
Penyebaran Kakao ke Eropa dan Dunia
Ketika pertama kali mencicipi cokelat suku Astek, orang-orang Spanyol tidak langsung menyukainya. Oleh karena itu, mereka mengembangkan cara pengolahan yang berbeda, yaitu dengan menyangrai biji kakao dan menambahkan gula tebu agar rasanya lebih manis dan sesuai dengan selera mereka.
Dari sinilah cokelat mulai dikenal luas di Eropa. Bangsa Spanyol membawa kakao ke Meksiko pada tahun 1522-1524 dan kemudian menanamnya di Trinidad pada tahun 1525.
Selain Spanyol, bangsa Belanda juga memiliki peran besar dalam penyebaran kakao ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia.
Pada tahun 1528, Spanyol membawa kakao olahan ke Eropa dan mempersembahkannya kepada Raja Charles V.
Sejak saat itu, cokelat menjadi sangat populer di Spanyol dan menyebar ke berbagai negara Eropa lainnya pada awal tahun 1550.
Beberapa pabrik cokelat kemudian bermunculan di Portugal, Italia, dan Prancis, sementara perdagangan kakao antara Amerika dan Eropa pun semakin berkembang.
Penemuan penting dalam dunia cokelat terjadi pada tahun 1828, ketika C.J. Van Houten dari Belanda menemukan metode untuk mengekstraksi biji kakao menjadi bubuk kakao (cocoa powder) dan lemak kakao (cocoa butter).
Inovasi ini semakin memperluas penggunaan kakao dalam berbagai produk makanan. Selanjutnya, pada tahun 1878, M. Daniel Peter dari Swiss menemukan cara untuk membuat susu cokelat, yang hingga kini menjadi salah satu varian cokelat paling populer di dunia.
Masuknya Kakao ke Indonesia
Di Indonesia, tanaman kakao pertama kali dibawa oleh bangsa Spanyol pada tahun 1560 dan ditanam di Minahasa, Sulawesi Utara.
Ekspor kakao dari Manado ke Manila sempat mencapai 92 ton pada periode 1825-1838. Sayangnya, serangan hama menghambat produksi dan mengurangi hasil panen kakao secara signifikan.
Pada tahun 1859, sekitar 10.000 hingga 12.000 pohon kakao ditanam di Ambon, menghasilkan sekitar 11,6 ton kakao. Tetapi tidak diketahui secara pasti bagaimana kelanjutan budidaya kakao di daerah tersebut.
Menjelang akhir abad ke-19, perkebunan kakao mulai berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Perkebunan Belanda di Indonesia pun mulai melakukan penelitian untuk mengembangkan bibit kakao yang lebih tahan terhadap hama dan penyakit.
Salah satu eksperimen sukses dilakukan di Perkebunan Djati Runggo, Jawa Tengah. Hasilnya adalah klon kakao unggul bernama DR (Djati Runggo), yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah seperti Jawa Timur dan Sumatra.
Dari sejarah panjang ini, kita bisa melihat bagaimana kakao berkembang dari Amerika Selatan, menyebar ke Eropa, dan akhirnya sampai ke Indonesia.
Berkat peran bangsa Spanyol dan Belanda, kini Indonesia menjadi salah satu produsen kakao terbesar di dunia. Kakao tidak hanya menjadi komoditas penting bagi perekonomian Indonesia, tetapi juga bahan dasar dari salah satu makanan paling disukai di dunia: cokelat.

