Mengapa Pecinta Kopi Lebih Peka Terhadap Rasa Pahit?
Minggu, 16 Maret 2025 - 20:01 WIBFoto: gresiksatu
Kopi dikenal memiliki rasa pahit yang khas, tetapi penelitian terbaru mengungkapkan bahwa orang yang lebih sensitif terhadap kepahitan justru lebih sering mengonsumsinya. Hasil ini mungkin terdengar tidak biasa, tetapi ada penjelasan ilmiah di baliknya.
Melansir Kompas, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports menunjukkan bahwa kesukaan seseorang terhadap kopi tidak hanya dipengaruhi oleh selera pribadi, tetapi juga oleh faktor genetik.
Penelitian ini dipimpin oleh Marilyn Cornelis, seorang profesor dari Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago.
"Seseorang yang lebih sensitif terhadap rasa pahit kafein seharusnya cenderung menghindari kopi, tetapi penelitian kami menemukan sebaliknya.
Konsumen kopi tampaknya mengasosiasikan rasa pahit kafein dengan efek positifnya, seperti meningkatnya energi dan kewaspadaan," jelas Cornelis. Dengan kata lain, meskipun pahit biasanya menjadi tanda peringatan untuk menghindari zat berbahaya, dalam hal kopi, hal itu justru menjadi daya tarik tersendiri.
Hubungan Genetika dengan Preferensi Minuman Pahit
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana faktor genetik mempengaruhi konsumsi minuman pahit seperti teh, kopi, dan alkohol. Jue Sheng Ong, seorang peneliti dari QIMR Berghofer Medical Research Institute di Brisbane, Australia, menjelaskan bahwa tubuh manusia merespons berbagai jenis kepahitan dengan cara yang berbeda.
"Kita merasakan pahitnya kafein, sayuran hijau seperti kubis Brussel, dan air tonic (kina) secara terpisah, dan tingkat kepahitan yang kita rasakan ditentukan oleh gen yang kita miliki," ujar Ong.
Dalam penelitian ini, tim ilmuwan menganalisis data genetik lebih dari 400.000 orang di Inggris dan membandingkannya dengan kebiasaan konsumsi minuman pahit mereka.
Hasilnya menunjukkan bahwa individu yang lebih sensitif terhadap pahitnya kafein cenderung lebih menyukai kopi, sementara mereka yang lebih peka terhadap kepahitan sayuran hijau atau kina lebih memilih teh.
Selain itu, orang yang memiliki gen tertentu yang membuat mereka lebih sensitif terhadap rasa pahit pada sayuran juga cenderung menghindari alkohol, terutama anggur merah.
Temuan ini memberikan wawasan baru bagi para peneliti dalam memahami kecanduan serta preferensi rasa pada manusia.
Faktor Lain yang Mempengaruhi Kebiasaan Minum Kopi
Penelitian ini tidak memperhitungkan tambahan seperti gula atau susu yang sering digunakan untuk mengurangi kepahitan kopi. Ong menyebutkan bahwa ada banyak faktor lain yang mempengaruhi kebiasaan seseorang dalam mengonsumsi kopi, termasuk status ekonomi, cara tubuh memproses kafein, hingga kebiasaan merokok.
"Setiap orang memiliki preferensi berbeda dalam menikmati kopi, mulai dari kopi hitam hingga cappuccino. Namun, penelitian ini lebih berfokus pada bagaimana faktor genetik berperan dalam konsumsi minuman pahit secara umum," tambah Ong.
Meski pahit, banyak orang tetap menyukai kopi karena berbagai alasan, di antaranya:
Efek Kafein
Kafein dalam kopi berfungsi sebagai stimulan alami yang dapat meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi. Studi dalam Neuropsychopharmacology menemukan bahwa kafein menghambat adenosin, zat yang menyebabkan rasa kantuk, sehingga seseorang merasa lebih segar dan berenergi setelah meminumnya.
Pengaruh Kebiasaan
Rasa pahit pada kopi dapat menjadi sesuatu yang disukai karena kebiasaan. Studi dalam Journal of Sensory Studies menunjukkan bahwa semakin sering seseorang terpapar rasa pahit, semakin terbiasa mereka dengan rasa tersebut.
Faktor Genetik
Variasi genetik dalam reseptor rasa pahit, seperti gen TAS2R38, berperan dalam seberapa kuat seseorang merasakan kepahitan kopi. Penelitian dalam Chemical Senses menunjukkan bahwa perbedaan ini dapat menentukan apakah seseorang lebih menyukai atau menghindari minuman pahit.
Aspek Sosial dan Psikologis
Kopi sering dikaitkan dengan momen sosial, seperti pertemuan dengan teman atau istirahat di kafe. Studi dalam Appetite mengungkapkan bahwa faktor sosial dan budaya memainkan peran besar dalam preferensi seseorang terhadap kopi.
Dampak Dopamin
Kafein dalam kopi merangsang pelepasan dopamin, neurotransmitter yang berhubungan dengan perasaan senang dan kepuasan. Penelitian dalam Journal of Psychopharmacology menunjukkan bahwa efek ini dapat menyebabkan ketertarikan berulang terhadap kopi.
Dengan berbagai faktor yang memengaruhi konsumsi kopi, mulai dari genetika hingga kebiasaan, tidak heran jika minuman ini tetap menjadi favorit banyak orang meskipun memiliki rasa yang pahit.

