Desa Cibaliung, Sentra Penghasil Gula Aren Pandeglang
Rabu, 19 Maret 2025 - 11:15 WIBFoto: mypangandaran
Di Kabupaten Pandeglang, terdapat sebuah desa yang dikenal luas sebagai pusat produksi gula aren.
Melansir Detik, Desa Cibaliung, yang berada di Kecamatan Cibaliung, memiliki tradisi turun-temurun dalam pembuatan gula aren.
Melimpahnya pohon kaung di wilayah ini menjadi berkah bagi masyarakat, karena bahan baku utama pembuatan gula aren tersedia secara alami di sekitar mereka.
Keahlian mengolah gula aren telah diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika bulan Ramadan tiba, permintaan akan gula aren dari desa ini meningkat pesat. Banyak orang mencarinya untuk dijadikan bahan utama dalam berbagai hidangan manis seperti kolak pisang, kolak singkong, serta jajanan tradisional seperti jojorong dan aneka kue khas lainnya.
Kerajinan Gula Aren yang Terus Dilestarikan
Salah satu kampung di desa ini, Kampung Babakan Sabrang, mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pembuat gula aren. Keberadaan pohon kaung yang tumbuh subur menjadi sumber mata pencaharian utama bagi warga setempat.
“Hampir semua orang di sini adalah pengrajin gula aren. Kami meneruskan pekerjaan orang tua karena hampir setiap kebun memiliki pohon kaung,” ujar Juara, seorang warga setempat, eperti yang dilansir dari Detik.
Proses pembuatan gula aren dimulai dari penyadapan air lahang atau nira dari pohon aren. Air nira ini kemudian diolah melalui proses pemasakan hingga mengental dan menjadi gula aren.
Meski memerlukan waktu cukup lama, warga tetap menjalani proses ini dengan penuh dedikasi karena telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Agar menghasilkan gula dengan cita rasa yang khas, pemasakan dilakukan menggunakan kayu bakar.
"Saya bertugas mengambil air lahang dari kebun, sementara istri saya yang mengolahnya menjadi gula aren. Sebagian kami jual, dan sebagian lainnya kami konsumsi sendiri," tambah Juara.
Peluang Ekonomi dari Gula Aren Cibaliung
Melimpahnya pohon kaung di Desa Cibaliung membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Terutama saat bulan Ramadan, permintaan akan gula aren semakin meningkat karena banyak orang yang membutuhkannya sebagai bahan dasar dalam berbagai olahan makanan.
“Banyak pembeli dari luar kota, bahkan ada yang mengirimnya ke berbagai daerah seperti Jawa Timur dan Jawa Barat,” ungkap Juara.
Wati, seorang pengrajin gula aren lainnya, menjelaskan bahwa proses memasak air lahang menjadi gula aren membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Setelah diambil dari kebun, air lahang dimasak dalam tungku dengan api kayu bakar hingga mengental dan siap untuk dicetak.
"Bisa dua jam, tiga jam, tergantung banyaknya air lahang yang diperoleh," jelas Wati.
Keunikan Gula Aren dari Cibaliung
Salah satu ciri khas gula aren Cibaliung adalah bentuknya yang unik. Para pengrajin menggunakan batok kelapa sebagai cetakan, sehingga gula yang dihasilkan memiliki bentuk bulat lonjong menyerupai tempurung kelapa. Selain itu, gula aren dari desa ini tidak dikemas menggunakan plastik. Sebagai gantinya, warga memanfaatkan daun salak kering untuk membungkus gula mereka.
“Selain menjaga kualitas rasa, pembungkus dari daun salak juga lebih alami dan ramah lingkungan,” kata Wati.
Dalam sehari, seorang pengrajin dapat menghasilkan sekitar 20 hulu (cetakan) gula aren, bahkan lebih, tergantung jumlah air lahang yang berhasil dikumpulkan. Dengan cita rasa khas serta proses produksi yang masih tradisional, gula aren dari Cibaliung terus diminati dan menjadi salah satu produk unggulan daerah.

