Produksi Gula Kelapa Organik di Sukabumi Meningkat, Tanpa Pengawet Kimia
Sabtu, 22 Maret 2025 - 15:07 WIBFoto: alibaba
Para perajin di kawasan perkebunan Bumi Lestari Abadi (BLA), Kampung Cigebang, Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, kini mulai memproduksi gula kelapa organik tanpa tambahan bahan kimia seperti Natrium metabisulfit.
Dilansir dari Sukabumi Update, Salah satu perajin, Duyeh (50 tahun), mengungkapkan bahwa selama puluhan tahun para penyadap menggunakan Natrium metabisulfit untuk menjaga kesegaran air nira.
Dalam empat bulan terakhir, sekitar 35 penyadap beralih menggunakan bahan alami seperti kapur sirih dan air rebusan kulit kayu nangka sebagai pengawet.
"Hasilnya lebih sehat, aman dikonsumsi, dan harga jualnya juga lebih tinggi. Gula kelapa organik dihargai Rp 16.500 per kilogram, sedangkan gula kelapa yang masih menggunakan Sulfit hanya Rp 14.500 per kilogram," ujarnya, seperti dilansir dari Sukabumi Update pada Selasa (18/2/2025).
Proses Produksi Gula Kelapa Organik
Menurut Duyeh, dalam pembuatan gula organik, kebersihan peralatan seperti jeriken, kuali, dan cetakan harus selalu diperhatikan. Selain itu, pohon kelapa yang digunakan untuk produksi juga harus dipelihara tanpa pupuk kimia.
"Saat masih menggunakan Sulfit, saya sendiri tidak yakin untuk menggunakannya sebagai bumbu masakan atau pemanis, sehingga lebih sering menggantinya dengan gula pasir.
Gula organik ini lebih aman, berwarna kuning kecokelatan, dan memiliki aroma khas yang wangi," jelasnya.
Pemasaran Gula Kelapa Organik
Dalam hal pemasaran, para penyadap tidak mengalami kendala karena mereka bernaung di bawah PT BLA, yang juga menjadi pembeli utama gula kelapa organik. Selain itu, perusahaan turut mendukung produksi dengan menyediakan bahan alami seperti kapur sirih untuk menjaga kualitas gula organik yang dihasilkan.
Dengan meningkatnya kesadaran akan manfaat gula kelapa organik, para perajin berharap produk ini semakin diminati di pasar, baik lokal maupun internasional.

