Hutan Batu Lanteh dan Batu Dulang, Penghasil Madu Berkualitas
Minggu, 30 Maret 2025 - 11:13 WIBFoto: honestdoc
Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadikan hutan Batu Lanteh dan Batu Dulang di Kabupaten Sumbawa sebagai sumber utama produksi madu alami berkualitas tinggi yang mampu mencapai ratusan ton setiap tahunnya.
Dilansir dari Republika, Kepala Dinas Kehutanan NTB, Andi Pramaria, mengungkapkan bahwa populasi lebah di hutan Batu Lanteh mampu menghasilkan hingga 73 ton madu dalam satu tahun, sedangkan di hutan Batu Dulang, produksi madunya mencapai sekitar 15 ton per tahun. Pernyataan ini disampaikannya saat berada di Mataram pada Senin.
Ia menegaskan bahwa madu alam Sumbawa telah menjadi ikon NTB dan dikenal secara nasional, sehingga pihaknya memberikan perhatian khusus terhadap potensinya.
Salah satu fokus utama adalah mendukung kelompok masyarakat yang mencari madu di kawasan hutan lindung dengan menyediakan peralatan serta teknik panen yang lebih berkelanjutan.
Dinas Kehutanan NTB juga membantu dalam pengujian kandungan madu di Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram untuk mendapatkan sertifikasi yang menjamin kualitas madu yang dihasilkan langsung dari hutan.
Selain itu, pihaknya berupaya mendaftarkan madu Sumbawa sebagai produk dengan indikasi geografis agar tidak mudah dipalsukan oleh pihak yang ingin meraih keuntungan secara tidak sah.
"Dengan adanya indikasi geografis, kita bisa menindak pihak-pihak yang menjual madu dengan label Sumbawa, padahal bukan berasal dari sana," jelas Andi.
Selain mendukung pencari madu liar, Dinas Kehutanan NTB juga memberikan pembinaan kepada kelompok masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan di Pulau Lombok untuk membudidayakan lebah madu.
Sentra budi daya lebah madu saat ini berkembang di beberapa wilayah, seperti di kaki Gunung Rinjani di Kabupaten Lombok Utara, serta di sekitar hutan di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur.
Namun, Andi mengakui bahwa produksi madu dari budi daya lebah masih tergolong rendah dibandingkan dengan madu hutan. Salah satu faktor penyebabnya adalah masih sedikitnya masyarakat yang menekuni usaha ini secara serius.
"Kesadaran masyarakat untuk menjadikan budi daya lebah sebagai sumber utama mata pencaharian masih kurang, sehingga produksi madu budi daya belum bisa menyaingi produksi madu hutan yang melimpah," tutupnya.

