Pertanian di Heso: Antara Ketergantungan pada Alam dan Perubahan Minat Petani
Minggu, 30 Maret 2025 - 21:59 WIBFoto: antaranews
Sistem pertanian yang masih bergantung sepenuhnya pada kondisi alam masih banyak ditemukan di Heso, Desa Golo Wune, Lambaleda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur.
Dilansir dari Patroli Post, karena belum adanya metode pengelolaan yang lebih modern, tanaman seperti kakao yang terserang hama sering dibiarkan begitu saja tanpa upaya perawatan agar tetap menghasilkan buah yang berkualitas.
“Kakao ini memang terlihat melimpah karena belum dibuka untuk diambil bijinya. Namun, jika diperiksa lebih lanjut, hanya sekitar setengahnya saja yang layak dijual. Selebihnya sudah rusak dan tidak bisa diolah menjadi sumber penghasilan,” ujar Rofel Rambas, seorang petani muda yang sedang memanen kakao di kebunnya di Heso, Senin.
Menurut Rofel, hasil panen kakao dulunya cukup melimpah dan jarang terserang hama, terutama saat buah mulai matang.
Seiring berjalannya waktu, serangan hama semakin meningkat, menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil panen.
Padahal, kakao sangat membantu perekonomian petani, terutama pada bulan-bulan tertentu ketika mereka kesulitan mendapatkan uang tunai.
“Pohon kakao berbuah sepanjang tahun, sehingga bisa menjadi penyelamat di saat kondisi keuangan sulit. Biasanya, dari Desember hingga Maret, bahkan sampai Mei, para petani mengalami masa-masa sulit dalam hal keuangan,” jelasnya.
Namun, minat petani di Heso terhadap kakao kini mulai menurun. Sebaliknya, mereka lebih tertarik menanam cengkeh yang dianggap lebih menguntungkan.
“Sekarang, petani di sini lebih memilih menanam cengkeh karena harga cengkeh kering per kilogram cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman lainnya.
Meskipun demikian, akan lebih baik jika semua tanaman yang memiliki nilai ekonomi tetap dikelola dengan baik. Dengan begitu, saat kesulitan keuangan datang, masih ada tanaman lain seperti kakao yang bisa dipanen,” tambahnya.

