Mengungkap Fakta di Balik Mitos Seputar Keaslian Madu
Sabtu, 10 Mei 2025 - 16:03 WIBFoto: pixabay
Sejak pandemi melanda, minat masyarakat terhadap produk perlebahan seperti madu meningkat signifikan karena kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang kesulitan membedakan madu murni dengan yang palsu karena banyaknya informasi yang keliru di masyarakat.
Melansir Antara, Dewi Masyithoh, Komisaris Kembang Joyo Group sekaligus produsen madu lokal, menegaskan bahwa kandungan madu asli dan palsu sangat berbeda.
Madu murni menawarkan banyak manfaat bagi tubuh, sedangkan madu palsu justru dapat menimbulkan penyakit seperti diabetes dan gangguan metabolik lainnya.
Melalui siaran pers yang dirilis pada Rabu, Dewi menjelaskan sejumlah kesalahpahaman umum mengenai madu dan membagikan fakta-fakta yang sebenarnya.
Banyak orang percaya bahwa madu murni tidak akan mengalami perubahan warna. Namun menurut Dewi, madu bisa berubah warna karena reaksi kimia alami yang disebut reaksi Maillard.
Proses ini dapat meningkatkan kandungan antioksidan dalam madu, yang berfungsi melawan radikal bebas penyebab berbagai penyakit serius seperti kanker dan gangguan ginjal. Oleh karena itu, perubahan warna tidak menandakan bahwa madu tersebut palsu.
Ada pula anggapan bahwa semut tidak tertarik pada madu murni. Faktanya, semut menyukai madu tergantung pada tingkat kematangan madu tersebut, kandungan gulanya, serta jenis semut yang berada di sekitarnya.
Semut bahkan tertarik pada nektar sebelum ia berubah menjadi madu. Namun, madu yang belum matang bisa mengalami fermentasi, menghasilkan gas karbon dioksida yang tidak disukai semut. Inilah sebabnya semut terkadang menghindari madu muda.
Mitos lainnya menyebutkan bahwa madu yang mengkristal adalah palsu. Dewi meluruskan bahwa proses kristalisasi merupakan hal alami pada madu yang tidak mengubah kualitas gizi dan manfaatnya.
Kristalisasi hanya mengubah tampilan fisik seperti warna dan tekstur, namun kandungan gizinya tetap utuh.
Salah satu mitos yang juga beredar adalah bahwa madu yang meletup saat dibuka tidak asli. Padahal, letupan bisa terjadi jika madu mengalami fermentasi akibat dipanen terlalu dini.
Khamir alami yang terbawa dari lingkungan akan aktif saat madu belum cukup matang dan menyebabkan fermentasi. Gas yang dihasilkan dari proses ini akan terakumulasi jika disimpan dalam botol tertutup rapat dan menghasilkan suara letupan saat dibuka.
Dewi menyimpulkan bahwa banyak tanda-tanda yang dianggap menunjukkan madu palsu justru merupakan proses alami yang wajar terjadi pada madu murni.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar agar tidak salah dalam memilih madu berkualitas.

