Manisnya Madu Hutan, Pahitnya Perjuangan Para Pemburu di Dompu
Selasa, 17 Juni 2025 - 13:51 WIBFoto: pixabay
Meski rasa madu dikenal manis dan lezat, namun cerita di balik proses mendapatkannya ternyata jauh dari kata manis. Melansir Kumparan, di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, aktivitas pencarian madu hutan justru penuh tantangan dan resiko yang tidak ringan.
Dua warga dari Dusun Pelita, Desa Tembalae, Kecamatan Pajo, yakni Syamsuddin Abdullah (50) dan Burhanuddin Landa (47), telah lama menjalani profesi sebagai pemburu madu hutan.
Keduanya sebenarnya petani, namun berburu madu menjadi pekerjaan tambahan yang cukup membantu perekonomian keluarga.
Biasanya, kegiatan berburu madu dilakukan ketika mereka memiliki waktu luang dari aktivitas bertani. Seperti saat ini, meski tengah sibuk mengawasi ladang jagung, keduanya tetap menyempatkan diri menyusuri hutan demi setetes madu.
Pendapatan dari hasil penjualan madu digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, hingga keperluan pertanian seperti pupuk dan pestisida.
Sarfiah (47), istri Burhanuddin, mengatakan bahwa pada bulan lalu, mereka berhasil menjual madu senilai Rp 700 ribu. Uang tersebut sangat berguna untuk membeli obat pertanian karena tanaman jagung mereka sedang terserang hama. Tak hanya itu, sebagian madu juga dikirimkan untuk anak perempuannya yang sedang menempuh pendidikan di Jakarta.
Dalam perbincangan di rumahnya, Syamsuddin menjelaskan bahwa kegiatan berburu madu biasanya dilakukan secara berkelompok, terdiri dari tiga hingga enam orang.
Mereka bisa menghabiskan beberapa hari di hutan, bahkan harus bermalam di gunung. Lokasi pencarian tidak terbatas di wilayah sendiri, tetapi bisa sampai ke Kecamatan Hu’u atau bahkan ke Kabupaten Sumbawa.
Namun, tidak setiap perjalanan membawa hasil. Terkadang mereka harus pulang dengan tangan kosong, tanpa satu botol madu pun.
Ada kalanya mereka beruntung dan bisa membawa pulang puluhan botol. Syamsuddin mengisahkan pengalaman terbaiknya saat menemukan sarang besar yang menghasilkan hampir 80 botol madu, sebuah pencapaian langka dan mengesankan.
Burhanuddin menambahkan, aktivitas ini memiliki tingkat bahaya yang cukup tinggi. Sarang madu biasanya berada di tempat tinggi dan curam, dan mereka juga kerap berhadapan dengan hewan liar seperti ular piton.
Beberapa kali mereka bahkan nyaris menginjak reptil besar itu. Meski begitu, ia percaya bahwa selama tidak mengejutkan ular atau mengganggu ketika sedang lapar, ular tidak akan menyerang. Karena itu mereka terbiasa membuat suara seperti berdehem agar keberadaan mereka terdeteksi oleh hewan di sekitar.
Namun, kondisi hutan di wilayah mereka kian memprihatinkan. Aktivitas peladangan yang intensif, terutama untuk tanaman jagung, telah menyebabkan banyak hutan menjadi gundul.
Pohon-pohon besar yang biasanya menjadi tempat lebah bersarang mulai menghilang. Burhanuddin menunjuk daerah pegunungan di timur Desa Woko hingga ke Desa Parado di Kabupaten Bima yang kini terlihat gundul dan terhubung tanpa sekat hijau seperti dahulu.
Mereka kini menghadapi tantangan baru, bukan hanya dalam mencari madu, tetapi juga menjaga agar hutan tetap lestari sebagai tempat kehidupan lebah-lebah penghasil madu. Bagi mereka, keberlanjutan alam dan hasil manis dari kerja keras harus berjalan beriringan.

