Sorgum Mulai Dibudidayakan di Kalbar, Alternatif Pangan Masa Depan
Sabtu, 21 Juni 2025 - 09:03 WIBDinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat mencatat baru tiga kabupaten yang mulai menanam sorgum, yakni Mempawah, Bengkayang, dan Sanggau.
Skala penanaman pun masih beragam, mulai dari uji coba di lahan kecil seluas seperempat hektare hingga yang sudah mencapai tujuh hektare.
Melansir Antara, salah satu lokasi budidaya yang cukup mencolok terletak di Dusun Nekan, Desa Nekan, Kecamatan Entikong, yang berada di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.
Di daerah ini, kelompok petani dari Koperasi Konsumen Batas Negeri Indonesia melakukan uji coba penanaman sorgum pada lahan seluas 0,25 hektare, yang dibagi dalam dua petak tanam berukuran masing-masing 25 meter x 25 meter.
Panen perdana menghasilkan sekitar 500 kilogram sorgum dari satu petak. Sedangkan pada panen kedua, hasilnya diperkirakan meningkat hingga 1.000 kilogram per petak. Dengan demikian, total produksi dari dua petak bisa mencapai 2.500 kilogram.
Wahyu Wiyadati, penggagas program budidaya sorgum ini, mengatakan tanaman mulai ditanam pada Juli dan berhasil dipanen pada akhir Oktober.
Varietas yang dipilih adalah Sorgum Bioguma, jenis unggulan yang tahan panas serta dapat tumbuh di lahan kering, cocok dengan kondisi tanah dan cuaca di wilayah Entikong.
Alasan utama Wahyu mengembangkan tanaman ini adalah karena siklus hidupnya yang pendek. Dalam waktu sekitar tujuh bulan, sorgum dapat dipanen hingga tiga kali. Hal ini menjadikannya sebagai sumber pangan alternatif yang berpotensi menggantikan beras.
Para petani koperasi, terutama ibu-ibu, juga ikut serta dalam proses penanaman dan pengolahan hasil panen.
Dari sorgum, mereka memproduksi berbagai olahan seperti beras sorgum, nasi goreng sorgum, kopi sorgum, hingga minuman es sorgum. Produk-produk ini menjadi solusi alternatif untuk menciptakan rasa kenyang tanpa bergantung pada nasi.
Melihat antusiasme masyarakat, koperasi kini tengah menyiapkan lahan seluas 25 hektare untuk pengembangan skala lebih besar.
Wahyu berharap dukungan dari berbagai pihak berupa pelatihan, alat produksi, serta akses pemasaran yang melibatkan koperasi secara langsung.
Ia optimistis, jika pasar sudah tersedia, petani akan lebih semangat untuk memperluas penanaman sorgum.
Menurut Dr. Uray Suci YVI dari Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, potensi tanaman sorgum di Kalimantan Barat cukup menjanjikan.
Ia menjelaskan bahwa sorgum merupakan tanaman semusim yang kaya manfaat dan bisa menjadi alternatif pengganti gandum.
Kandungan gluten pada sorgum jauh lebih rendah sehingga cocok bagi penderita intoleransi gluten atau yang menjalani diet bebas gluten.
Namun ia mengakui, popularitas sorgum di Kalbar masih rendah karena masyarakat lebih terbiasa dengan produk gandum yang teksturnya lebih elastis.
Dari sisi agronomi, tantangan utama di Kalbar adalah kondisi tanah yang cenderung asam dengan pH di bawah 4, sedangkan sorgum idealnya tumbuh di tanah ber-pH antara 5,5 hingga 6.
Oleh karena itu, diperlukan penambahan bahan amelioran seperti dolomit, lumpur laut, atau bahan organik untuk meningkatkan kesuburan dan pH tanah.
Kepala Seksi Serealia dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar, Suyatno, menambahkan bahwa Kalimantan Barat memiliki potensi besar untuk pengembangan sorgum karena lahan yang tersedia masih luas.
Ia juga menyebutkan bahwa sorgum bisa ditanam di pekarangan rumah, asalkan tanahnya subur, bebas genangan air, dan tidak tertutup bayangan tanaman tinggi lainnya.
Dengan berbagai keunggulan dan dukungan yang mulai mengalir, sorgum dipandang sebagai tanaman masa depan yang mampu memperkaya sumber pangan lokal serta mendukung ketahanan pangan daerah.

