BI NTB Perkuat Ekspor Komoditas Unggulan Lombok Utara
Minggu, 22 Juni 2025 - 09:42 WIBKabupaten Alor di Nusa Tenggara Timur berkomitmen menjadikan kacang kenari sebagai komoditas andalan dengan menerapkan teknologi dan pengolahan lanjutan guna meningkatkan pendapatan petani.
Bupati Alor Iskandar Lakamau menekankan bahwa kenari telah menjadi ciri khas daerah, sejalan dengan tagline "Nusa Kenari" yang sedang dipromosikan. Tanaman ini memiliki keunggulan ganda, baik secara ekonomi maupun lingkungan, sehingga pantas mendapatkan pengembangan serius.
"Kenari adalah kekayaan alam khas Alor dengan cita rasa istimewa dan kandungan gizi tinggi. Kami ingin warga tidak sekadar menjual biji mentah, tapi juga mengembangkannya menjadi produk olahan seperti makanan ringan dan minyak berkualitas," jelas Iskandar dalam wawancara di kantornya, Kalabahi, Jumat lalu.
Menurut penjelasannya, pohon kenari tersebar luas di berbagai kecamatan seperti Alor Timur, Pantar, Leilanduhi, Sebanja, Kamot, hingga Bukapiti. Dengan cita rasa yang konsisten dan unik, kenari asal Alor memiliki prospek cerah untuk dipasarkan di tingkat nasional maupun internasional.
Untuk memperkuat pengembangan berbasis teknologi, Pemkab Alor menjalin sinergi dengan BRIN dan Wahana Visi Indonesia (WVI). Kolaborasi ini difokuskan pada penyediaan teknologi budidaya yang lebih efektif, teknik pengolahan yang optimal, serta penyiapan dokumen pendukung yang diperlukan.
Dengan pendekatan terpadu meliputi riset, penerapan teknologi, dan kemitraan strategis, kenari diharapkan dapat menjadi komoditas unggulan yang tidak hanya melestarikan lingkungan tetapi juga mendongkrak pendapatan petani lokal.
Saat ini, Pemkab Alor bersama mitra sedang mengintensifkan proses pengajuan sertifikasi Indikasi Geografis (IG) untuk kenari Alor kepada Kementerian Hukum dan HAM sebagai langkah perlindungan dan pengakuan atas kekayaan alam khas daerah ini.
Bupati Iskandar menekankan pentingnya langkah ini sebagai fondasi awal untuk melindungi kekhasan kenari Alor. Komoditas ini memiliki keunikan karena dihasilkan dari pohon berukuran besar berusia ratusan tahun, sekaligus berpotensi memperluas pasar hingga ke tingkat internasional.
"Kedepannya, kami berkomitmen untuk mengembangkan kenari tidak hanya sebagai produk hutan alam, tetapi juga sebagai komoditas budidaya berkelanjutan. Kami menerapkan teknologi ramah lingkungan yang sedang dikembangkan bersama BRIN dan WVI," jelas Iskandar.

