Harapan Baru Untuk Kanker Serviks Dengan Andaliman
Sabtu, 28 Juni 2025 - 12:38 WIBKanker serviks merupakan salah satu penyakit ganas yang memerlukan strategi pencegahan dan penanganan menyeluruh. Temuan terkini mengungkap potensi Zanthoxylum acanthopodium (andaliman) sebagai terapi inovatif untuk kanker serviks, tidak hanya karena efek antikankernya tetapi juga karena sifat alaminya yang lebih aman.
Prof. Dr. Syafruddin Ilyas, ahli reproduksi molekuler dari Universitas Sumatera Utara, optimis bahwa dengan penelitian berkelanjutan, andaliman dapat berkembang menjadi obat kanker serviks yang menjanjikan di masa depan.
Di kawasan Asia Tenggara, kanker serviks menempati urutan kedua sebagai kanker paling mematikan setelah kanker payudara. Di Indonesia, penyakit ini menjadi ancaman serius dengan insidensi 17 kasus per 100.000 penduduk dan angka kematian 7,7 per 100.000 penduduk. Rendahnya tingkat pemahaman masyarakat tentang kanker serviks turut memperparah situasi ini. Data Hiremath (2017) menunjukkan hanya 30% wanita Indonesia yang memiliki pengetahuan memadai tentang penyakit ini.
Menurut Prof. Ilyas, infeksi human papillomavirus (HPV) merupakan penyebab utama kanker serviks, yang ditularkan melalui hubungan seksual dan dapat berkembang menjadi kanker jika tidak terdeteksi dini. Faktor risiko lain meliputi jumlah anak, siklus menstruasi tidak teratur, dan kebersihan area genital. Karenanya, skrining rutin dan vaksinasi HPV sangat dianjurkan.
Sebagai upaya mencari solusi, tim peneliti multidisiplin yang dipimpin Prof. Ilyas mengeksplorasi potensi andaliman, tanaman asli Sumatra Utara yang secara tradisional digunakan sebagai antiinflamasi dan antioksidan. Penelitian terbaru mengungkap bahwa ekstrak andaliman mampu menghambat ekspresi CDK4, protein kunci dalam siklus sel kanker serviks. Temuan ini membuka peluang pengembangan terapi berbasis tanaman yang lebih aman.
Lebih lanjut, andaliman terbukti mengandung senyawa bioaktif yang menurunkan kadar malondialdehid (MDA) sekaligus meningkatkan ekspresi HSP-70, protein pelindung sel. Pada uji praklinis, ekstrak andaliman berhasil menghambat pertumbuhan sel kanker yang diinduksi benzopiren pada tikus. Meski demikian, Prof. Ilyas menekankan perlunya uji klinis lebih lanjut untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya pada manusia.
Penelitian ini sejalan dengan SDGs poin 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, dengan menawarkan terapi kanker yang lebih terjangkau dan berkelanjutan. Prof. Ilyas menutup dengan pesan penting: pengobatan kanker serviks memerlukan pendekatan holistik, dan andaliman berpotensi menjadi bagian dari solusi di masa depan, memberikan harapan baru bagi pasien di Indonesia maupun global.

