Potensi Kopi Papua dalam Industri Kopi Nasional dan Internasional
Kamis, 17 Juli 2025 - 10:37 WIBFoto: pixabay
Indonesia telah lama dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Berbagai jenis kopi dengan karakteristik rasa yang unik tersebar di seluruh nusantara, mulai dari kopi Gayo dari Aceh, kopi Toraja dari Sulawesi Selatan, kopi Kintamani dari Bali, hingga kopi-kopi khas dari wilayah timur seperti Papua.
Menurut laporan dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), total produksi kopi dunia pada musim 2022/2023 mencapai 170 juta kantong dengan ukuran 60 kilogram per kantong.
Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai produsen kopi terbanyak setelah Brasil dan Vietnam.
Dari total tersebut, Indonesia menghasilkan sekitar 11,85 juta kantong, yang terdiri dari 1,3 juta kantong kopi arabika dan 10,5 juta kantong kopi robusta. Sebagai perbandingan, Brasil memproduksi 62,6 juta kantong, sementara Vietnam menghasilkan 29,75 juta kantong.
Peringkat keempat dan kelima ditempati oleh Kolombia dengan 11,3 juta kantong dan Ethiopia dengan produksi sebesar 8,27 juta kantong.
Posisi Indonesia dalam pasar kopi dunia menunjukkan bahwa negara ini memiliki potensi besar untuk terus berkembang, khususnya dalam memperkenalkan cita rasa kopi dari berbagai daerah kepada konsumen global.
Kopi yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Papua, kini semakin dikenal luas di dalam maupun luar negeri. Papua sendiri memiliki beragam jenis kopi seperti arabika, robusta, dan liberika.
Menariknya, kopi liberika awalnya dikategorikan sebagai varian dari kopi robusta dan dikenal dengan nama ilmiah Coffea canephora var. liberica.
Dilansir dari Antara, Provinsi Papua terdiri dari sembilan kabupaten dan kota, termasuk Biak Numfor, Jayapura, Keerom, Kepulauan Yapen, Mamberamo Raya, Sarmi, Supiori, Waropen, dan Kota Jayapura. Beberapa wilayah tersebut menjadi lokasi pengembangan berbagai jenis kopi.
Daerah seperti Wamena di wilayah Papua Pegunungan dikenal sebagai penghasil kopi arabika dengan luas lahan tanam mencapai lebih dari 32 ribu hektare dan menghasilkan sekitar 161 ton kopi.
Selain arabika, kini mulai berkembang pula budidaya kopi robusta dan liberika di wilayah Keerom, Jayapura, dan Kepulauan Yapen. Kondisi alam di daerah-daerah ini sangat cocok untuk pertumbuhan kedua jenis kopi tersebut.
Sebagai contoh, di Kampung Ambaidiru, Distrik Kosiwo, Kepulauan Yapen, perkebunan kopi telah berkembang hingga mencakup area seluas lebih dari 81 hektare. Walau masih tergolong kecil, produksi kopi di daerah ini cukup stabil, mencapai sekitar 1 ton.
Di Kabupaten Jayapura, penanaman kopi mulai dilakukan meski belum memasuki masa panen, yang biasanya terjadi setelah pohon berumur antara 3 hingga 4 tahun.
Budidaya kopi di beberapa wilayah di Papua sebagian besar diinisiasi oleh para petani lokal, beberapa di antaranya merupakan mitra binaan pemerintah daerah.
Pemasaran produk kopi dilakukan secara individu maupun melalui koperasi. Contohnya di Ambaidiru, para petani menjual hasil panennya melalui koperasi.
Yafet Wetipo, seorang pelaku usaha UMKM di Papua, saat ini sedang mengembangkan budidaya kopi robusta dan liberika di Keerom, Jayapura, dan Kepulauan Yapen.
Ia mengelola bisnis kopi bernama Highland Roastery and Coffee, yang turut melakukan pemantauan perkembangan pohon kopi di wilayah tersebut. Meskipun produksi masih terbatas, pertumbuhan tanaman kopi di daerah ini cukup baik.
Kopi liberika dapat tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, dan cocok ditanam di tanah gambut serta lahan pasang surut.
Sebaliknya, kopi robusta biasanya ditanam pada ketinggian antara 300 hingga 900 meter di atas permukaan laut di lahan tanah mineral.
Yafet menyampaikan bahwa saat ini permintaan terhadap kopi arabika dan liberika dari Papua meningkat, terutama karena negara penghasil utama seperti Vietnam tengah mengalami penurunan produksi akibat gagal panen.
Kopi Papua memiliki keunikan rasa yang khas, menjadikannya daya tarik tersendiri bagi pasar luar negeri.
Contohnya, kopi arabika dari Wamena memiliki aroma ringan, dengan cita rasa sedikit asam serta aroma floral yang lembut.
Sedangkan kopi robusta dari Ambaidiru dikenal memiliki rasa yang harum dengan tingkat keasaman dan kafein yang rendah.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Faturachman, menyebutkan bahwa ada empat sektor yang diandalkan untuk mendukung perekonomian daerah, yaitu sektor pariwisata, perikanan, pertanian, dan ekonomi kreatif.
Pertanian sendiri menjadi salah satu sektor prioritas, termasuk produksi kopi yang kian menarik minat pasar internasional.
Dalam ajang World of Coffee di Kopenhagen, Denmark, kopi Papua berhasil menarik perhatian pembeli dari berbagai negara seperti Jepang dan negara-negara Eropa.
Kopi yang ditampilkan dalam acara tersebut antara lain kopi arabika dari wilayah Pegunungan Bintang, kopi Amungme, dan kopi Wamena.
Untuk itu, dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak untuk mengembangkan potensi kopi Papua. Mulai dari peningkatan kapasitas petani, pelatihan barista, hingga promosi yang lebih gencar untuk memperluas pasar dan memperkuat posisi kopi Papua di tingkat nasional maupun global.

