Harga Cokelat Dunia Naik, Presiden Prabowo Dorong Pembibitan Kakao Baru
Kamis, 24 Juli 2025 - 14:07 WIBFoto: pixabay
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa saat ini harga cokelat di pasar global tengah mengalami lonjakan. Menanggapi kondisi tersebut, ia mendorong dilakukan pembibitan dan peremajaan tanaman kakao di dalam negeri.
Dilansir dari Kumparan, pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat berkunjung ke rumah mantan Presiden Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah pada Minggu, 20 Juli.
Dalam keterangannya kepada awak media, Prabowo menyebutkan bahwa lonjakan harga cokelat perlu direspons cepat melalui langkah konkret di sektor hulu.
"Harga cokelat dunia sedang tinggi, dan ini kesempatan bagi kita untuk meningkatkan produksi. Maka, pembibitan dan peremajaan kakao harus segera dimulai. Pemerintah akan mengambil langkah-langkah ke arah itu," ucapnya setelah bertemu Jokowi.
Lebih lanjut, Prabowo menjelaskan bahwa kenaikan harga cokelat secara global dipicu oleh adanya gangguan produksi di negara-negara penghasil utama.
Beberapa wilayah di Amerika Latin dan Afrika mengalami wabah yang berdampak pada pohon-pohon kakao, sehingga mengganggu pasokan dunia.
“Informasi yang kami terima, di Amerika Latin dan Afrika ada wabah yang merusak tanaman kakao. Inilah yang menyebabkan harga cokelat melonjak drastis. Hal ini juga saya sampaikan saat berbincang dengan Pak Jokowi,” ungkapnya.
Berdasarkan data dari Tradingeconomics, harga kakao pada Jumat, 18 Juli, meningkat sebesar 5,30 persen dan berada di angka USD 7.696 per ton.
Indonesia sendiri termasuk negara penghasil kakao yang produknya rutin diekspor ke berbagai negara seperti Malaysia, Jepang, Jerman, Singapura, dan Amerika Serikat.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor kakao Indonesia terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Ekspor kakao untuk periode Januari hingga April 2025 mencapai USD 27,51 juta atau sekitar Rp 445,5 miliar, dengan total volume 2.953.927 ton.
Pada tahun 2024, nilai ekspor mencapai USD 80,6 juta dengan volume sebanyak 13.182.175 ton. Meski secara berat lebih kecil, nilai ekspor tersebut meningkat dibandingkan tahun 2023 yang mencapai USD 46,9 juta dengan volume 14.451.051 ton.
Sementara itu, di tahun 2022, Indonesia mencatat ekspor kakao sebesar USD 63,5 juta dengan volume 24.501.982 ton.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2021 yang mencatat nilai ekspor sebesar USD 56,29 juta dengan volume 22.280.080 ton.
Tren ini menunjukkan potensi besar sektor kakao Indonesia, terutama di tengah situasi global yang kurang menguntungkan bagi negara-negara pesaing. Pemerintah pun berupaya memanfaatkan peluang ini untuk memperkuat sektor kakao nasional.

