Tari Indang, Tari Khas Minangkabau
Kamis, 25 Maret 2021 - 15:01 WIBFoto : kompasiana
Indang juga disebut Dindin badindin adalah tarian Islam tradisional Minangkabau yang berasal dari Sumatera Barat, Indonesia.
Tari Indang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Minangkabau sebagai gambaran masuknya Islam di Sumatera Barat pada abad ke-13.
Secara historis tarian ini merupakan hasil akulturasi budaya Minang dan budaya Islam yang menyebar pada abad ke-14.
Konon peradaban Islam dikenalkan oleh para pedagang Islam yang masuk ke Aceh. Mulai dari pantai barat pulau Sumatera hingga kemudian menyebar ke Ulakan-Pariaman.
Kesenian ini terus berkembang pada surau yang biasa dimainkan setelah kegiatan mengaji. Karena sifat pendidikan agama maka isi lagu yang tersedia mengandung ajaran agama.
Adapun perkembangan selanjutnya kesenian ini berubah dari surau keluar menjadi menjadi tempat yang disebut korek api. Sebuah tempat tanpa dinding yang memungkinkan penonton untuk melihat dari segala arah.
Dulu, setiap nagari di Pariaman memiliki kelompok kesenian Indang sendiri, dan Indang dulunya penuh dengan sesuatu yang sakral.
Ada yang mengatakan bahwa masing-masing kelompok ini memiliki “sipatuang sirah” yaitu orang tua yang memiliki kesaktian untuk menjaga keamanan kelompoknya dari kekuatan luar yang dapat menghancurkan kelompok lain.
Selain itu, dari segi waktu, istilah Indang dikenal naik dan turun. Saat memasuki hari pertama, tarian Indang akan dimulai tengah malam antara pukul 11-12 malam.
Sedangkan jika memasuki hari kedua, tarian dimulai saat hari sudah senja atau setelah shalat Maghrib. Tarian Indang juga populer di luar Indonesia seperti Negeri Sembilan, Malaysia.

