Tarian Kethek Ogleng, Tarian Tradisional Jawa Timur Yang Meniru Kera
Jumat, 02 April 2021 - 19:39 WIBFoto: seringjalan
Tari Kethek Ogleng merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Jawa Timur.
Tarian ini merupakan tarian yang gerakannya meniru tingkah laku kethek (kera). Dalam pertunjukannya Tari Kethek Ogleng dibawakan oleh 4 orang penari, 3 orang penari wanita dan seorang penari pria yang berperan sebagai manusia kera.
Tarian ini diawali dengan masuknya ketiga penari wanita tersebut ke atas panggung. Kemudian 2 dari 3 penari wanita digambarkan sebagai wanita dan satu penari wanita berperan sebagai putri Dewi Sekartaji, putri Jenggala, Sidoarjo.
Sedangkan penari pria berperan sebagai Raden Panji Asmorobangun yang berasal dari Kerajaan Dhaha Kediri.
Awalnya tarian ini ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan.
Dengan menceritakan kisah Raden Asmorobangun dan Dewi Sekartaji yang sama-sama saling mencintai dan bercita-cita untuk membangun kehidupan yang harmonis dalam sebuah keluarga.
Namun Raja Jenggala, ayah Dewi Sekartaji, berkeinginan untuk menikahkan Dewi Sekartaji dengan laki-laki pilihannya.
Ketika Dewi Sekartaji tahu akan dinikahkan dengan pria pilihan ayahnya, maka secara diam-diam Dewi Sekartaji meninggalkan Kerajaan Jenggala tanpa sepengetahuan ayahnya dan semua orang di kerajaan.
Pada malam hari, sang putri berangkat dengan beberapa wanita menuju ke barat. Kepergian Dewi Sekartaji sampai di telinga Raden Panji.
Raden Panji bahkan bergegas mencari kekasihnya, di tengah perjalanan ia singgah di sebuah rumah seorang pendeta.
Pendeta menasihatinya untuk pergi ke barat, menyamar sebagai kera. Sedangkan Dewi Sekartaji yang menyamar sebagai Endang Rara Tompe mencoba mendaki gunung dan beristirahat di suatu daerah dan memutuskan menetap disana.
Tempat tersebut tidak jauh dari keberadaan Raden Panji. Keduanya juga bertemu dan bermain satu sama lain dan kemudian menjadi akrab.
Awalnya, keduanya tidak mengenal satu sama lain dalam penyamaran. Dalam gerakan tari, peristiwa diwakili dengan masuknya manusia kera ke dalam sebuah panggung yang bertemu dengan Endang Rara Tompe dan kedua pengawalnya.
Gerakan manusia kera (kethek) meloncat-loncat kesana kemari, gerakan berguling menggambarkan persahabatan yang mesra.
Tarian ini diakhiri dengan gerakan Endang Rara Tompe yang memanjat manusia kera dan diakhiri dengan persatuan keduanya, sedangkan kedua dayangnya memegang dewi Sekartaji.
Dalam ceritanya, setelah pertemuan tersebut, Endang Rara Tompe berubah wujud menjadi Dewi Sekartaji dan manusia kera berubah menjadi Raden Panji Asmorobangun. Keduanya pun kembali ke kerajaan Jenggala untuk melangsungkan pernikahan.

