Resep Sambal Kecap Andaliman
Minggu, 25 Mei 2025 - 20:34 WIBFoto: brilio
Beras masih menjadi sumber karbohidrat utama masyarakat Indonesia. Tak mengherankan jika dalam program swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto, beras menjadi prioritas utama, diikuti oleh komoditas lain seperti jagung.
Tetapi muncul pertanyaan penting: apakah masyarakat dapat diajak beralih ke sumber karbohidrat lain?
Dilansir dari Antara, jawabannya adalah bisa, asalkan dilakukan melalui pengembangan strategi diversifikasi pangan.
Diversifikasi pangan merupakan upaya untuk mengenalkan masyarakat pada berbagai pilihan makanan pokok selain beras dan gandum, seperti sagu, jagung, ubi, singkong, sukun, hingga sorgum.
Tujuan dari strategi ini adalah memperluas pilihan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada bahan makanan tertentu.
Langkah ini sangat penting untuk menciptakan sistem ketahanan pangan yang lebih tangguh dan fleksibel. Diversifikasi juga membuka peluang untuk mengembangkan komoditas lokal, yang nantinya turut mendukung program swasembada beras karena stok tidak akan cepat menipis akibat tekanan permintaan tunggal.
Target Pemerintah untuk membuka lahan pertanian baru seluas tiga juta hektare dalam beberapa tahun mendatang bukanlah hal mustahil.
Lahan tersebut bahkan bisa digunakan tidak hanya untuk menanam padi, tetapi juga untuk mengembangkan sumber pangan alternatif lainnya.
Indonesia saat ini membutuhkan sekitar 30 juta ton beras per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah terpaksa mengimpor sekitar 3,6 juta ton beras pada 2024, sebagian di antaranya masuk dalam cadangan beras nasional. Untuk mengurangi ketergantungan pada impor, berbagai kebijakan telah diterapkan, termasuk proyek food estate yang menjadi program strategis nasional sejak masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, dan kini dilanjutkan oleh Presiden Prabowo.
Kementerian Pertanian telah menetapkan dua pendekatan utama: meningkatkan produktivitas melalui intensifikasi dan memperluas lahan tanam melalui ekstensifikasi.
Namun, keberhasilan program ini tidak akan lengkap tanpa upaya nyata dalam mengembangkan diversifikasi pangan.
Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menegaskan pentingnya diversifikasi dalam menciptakan ketahanan pangan.
Ia menyebutkan bahwa food estate dan pencetakan sawah hanya akan efektif bila disertai pemanfaatan berbagai tanaman lokal yang memiliki potensi tinggi.
Ketergantungan pada satu jenis pangan seperti beras sangat beresiko, terutama saat terjadi gangguan iklim atau bencana alam.
Hal ini bisa mengakibatkan kelangkaan dan memaksa negara kembali mengimpor. Oleh sebab itu, penting agar berbagai tanaman seperti sagu, sukun, ubi kayu, dan sorgum dimasukkan dalam program pengembangan pangan nasional.
Selain memperkuat ketahanan pangan, diversifikasi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian.
Penggunaan bahan baku lokal mendorong berkembangnya industri kecil dan menengah (IKM), menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan pangan impor.
Kementerian Perindustrian bahkan mendorong pelaku IKM untuk memanfaatkan tanaman lokal sebagai bahan baku utama, seperti sorgum untuk nasi, ganyong untuk bahan mi, hotong untuk sereal, porang sebagai bahan tepung dan beras shirataki, hingga hanjeli untuk yogurt dan pakan ternak.
Talas dan ubi kayu pun bisa menjadi alternatif tepung dan bahan makanan lainnya yang bernilai tinggi.
Bahan baku lokal juga lebih mudah diolah, bisa difortifikasi, dan cocok dengan kebutuhan industri makanan modern.
Selain itu, diversifikasi membantu menurunkan jejak karbon dan konsumsi air, menjadikannya pilihan yang lebih ramah lingkungan.
Tantangan tetap ada. Untuk memastikan diversifikasi pangan berhasil, pasokan bahan pangan alternatif harus mudah diakses hingga ke pelosok, termasuk saat masa krisis. Harganya juga harus terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama bagi kelompok miskin dan rentan.
Dengan perencanaan yang matang dan dukungan dari semua pihak, diversifikasi pangan bisa menjadi solusi jangka panjang dalam mewujudkan kedaulatan dan kemandirian pangan Indonesia.

